Harakatuna.com. Damaskus — Aparat keamanan Suriah berhasil menggagalkan rencana serangan bom yang diduga disiapkan kelompok ISIS di sebuah gereja di Kota Aleppo saat perayaan Malam Tahun Baru, Rabu (31/12/2025). Upaya pencegahan tersebut dilakukan setelah polisi memperoleh informasi intelijen terkait rencana serangan terhadap tempat ibadah dan lokasi keramaian umum.
Kementerian Dalam Negeri Suriah dalam pernyataan resminya pada Kamis (1/1/2026) mengungkapkan, ISIS merencanakan aksi bom bunuh diri dan serangan bersenjata yang menyasar perayaan pergantian tahun di sejumlah provinsi, termasuk Aleppo.
“Informasi yang kami terima menunjukkan ISIS sedang merencanakan operasi bunuh diri dan serangan bersenjata yang menargetkan perayaan Tahun Baru, khususnya dengan sasaran gereja dan tempat berkumpulnya warga,” demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri Suriah, seperti dikutip kantor berita AFP.
Insiden di Aleppo berawal ketika petugas keamanan mengirimkan gerakan-gerik seorang pria di kawasan Bab Al Faraj. Saat dilakukan upaya pencegatan dan interogasi, pria tersebut—yang belakangan diketahui berafiliasi dengan ISIS—langsung melepaskan tembakan ke arah aparat. “Pelaku menembak hingga menjatuhkan salah satu petugas, lalu memanjangkan diri saat upaya penangkapan dilakukan,” lanjut pernyataan Kemendagri Suriah.
Aksi tersebut berhasil digagalkan sebelum mencapai sasaran utama, namun menewaskan seorang anggota pasukan keamanan Suriah. Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas kelompok ISIS di wilayah Suriah yang masih berada di bawah kendali Pemerintah Damaskus. Salah satu serangan paling mematikan sepanjang 2025 terjadi pada Juni lalu, ketika bom bunuh diri menghantam sebuah gereja di Damaskus dan menjatuhkan sedikitnya 25 orang.
Pemerintah Suriah menuding ISIS sebagai dalang serangan tersebut. Namun, kelompok ekstremis Saraya Ansar Al Sunna berhak bertanggung jawab. Sejumlah analis menilai kelompok itu merupakan kedok atau cabang tersembunyi dari jaringan ISIS.
ISIS juga berada di balik serangan di Palmyra pada 13 Desember 2025 yang menewaskan dua tentara Suriah dan seorang warga sipil asal Amerika Serikat. Menyusul kejadian itu, militer AS melancarkan serangan udara ke sejumlah lokasi yang diduga menjadi basis ISIS di Suriah.
Berdasarkan laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), serangan udara tersebut mengurangi sedikitnya lima anggota ISIS. Pemerintah Suriah pun meningkatkan operasi militer terhadap kelompok tersebut, termasuk setelah insiden Palmyra.
Pada 25 Desember 2025, otoritas Suriah mengklaim berhasil membunuh seorang pemimpin senior ISIS dalam sebuah operasi militer. Langkah ini sejalan dengan komitmen terbaru Suriah yang secara resmi bergabung dengan pemerintahan internasional pimpinan Amerika Serikat dalam memerangi ISIS.
Komitmen tersebut diperkuat setelah kunjungan Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa ke Washington pada November 2025. Al Sharaa, yang naik ke tampuk kekuasaan pada Desember 2024 menggantikan Bashar Al Assad, dikenal sebagai mantan anggota kelompok milisi.
Meski pemerintahnya menegaskan sikap keras terhadap ISIS, kepemimpinan Al Sharaa memicu kekhawatiran di kalangan kelompok minoritas Suriah. Sepanjang tahun 2025, kekerasan bernuansa sektarian dilaporkan meningkat. Pada Maret 2025, warga sipil dari komunitas Alawite—kelompok asal mantan Presiden Assad—dilaporkan menjadi korban kematian di wilayah pesisir.
Selain itu, bentrokan antara pasukan pemerintah dan kelompok bersenjata juga terjadi di Provinsi Sweida yang sebagian besar penduduknya berasal dari komunitas Druze, menambah kompleksitas situasi keamanan di Suriah.