Harakatuna.com. Bontang – Penyebaran paham radikalisme kini dinilai mengalami perubahan pola yang sangat terpengaruh. Jika dulu identik dengan pertemuan tertutup dan jaringan bawah tanah, kini propaganda ekstrem lebih halus dan menyusup melalui ruang digital yang dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi antara Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dengan Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) terkait penguatan pencegahan radikalisme di era digital.
Kepala Diskominfo Bontang, Andi Hasanuddin Akmal, mengatakan media sosial saat ini menjadi ruang paling rentan bagi penyebaran paham radikal, terutama di kalangan pelajar yang aktif berinteraksi secara berani. “Sekarang sasaran utamanya pelajar. Mereka aktif di media sosial dan rasa ingin tahunya tinggi. Ini yang dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Andi pada saat diskusi di Kantor Diskominfo Kota Bontang, Kalimantan Timur, pada Sabtu (23/5/2026).
Menurutnya, ancaman radikalisme digital tidak lagi datang secara terang-terangan, melainkan melalui pendekatan yang perlahan dan membangun kedekatan emosional dengan sasaran. Peringatan tersebut, kata Andi, didasarkan pada temuan kasus nyata di Kalimantan Timur. Densus 88 menyaksikan seorang siswa tingkat SMP sempat terpapar paham radikal setelah berkenalan dengan seseorang melalui platform TikTok.
Awalnya, komunikasi berlangsung seperti percakapan biasa tanpa tanda mencurigakan. Namun setelah hubungan dianggap cukup dekat, interaksi dipindahkan ke aplikasi pesan pribadi yang lebih tertutup. “Anak itu masih sangat muda. Awalnya hanya komunikasi biasa, tapi kemudian diarahkan ke hal-hal yang berbahaya,” katanya.
Dalam ruang komunikasi yang lebih privat tersebut, doktrin dan narasi radikal mulai disisipkan secara bertahap. Beruntung, kasus itu dapat segera terdeteksi sehingga Densus 88 bersama pihak terkait langsung melakukan pendampingan dan pelatihan terhadap pelajar tersebut. Karena paparan masih berada pada tahap awal, proses pemulihan berlangsung relatif cepat dan kondisi anak kini telah kembali normal.
Kasus tersebut menjadi alarm serius mengenai kerentanan anak-anak dan remaja terhadap propaganda ekstrem di ruang digital, terutama mereka yang tengah berada dalam fase pencarian jati diri. Andi menilai rendahnya literasi digital dan minimnya pengawasan menjadi celah yang sering dimanfaatkan kelompok radikal untuk mempengaruhi generasi muda. “Minimnya literasi digital dan pengawasan bisa membuka celah bagi masuknya pengaruh negatif,” tambahnya.
Oleh karena itu, Densus 88 mulai memperkuat strategi pencegahan di berbagai daerah, termasuk di Kota Bontang. Pendekatan yang dilakukan lebih menitikberatkan pada edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat dibandingkan penindakan hukum semata.
Ke depan, sinergi pencegahan juga akan dibahas dengan melibatkan Dinas Pendidikan agar edukasi mengenai bahaya radikalisme dapat masuk ke lingkungan sekolah. Langkah tersebut bertujuan membentuk pelajar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki daya tahan terhadap informasi dan propaganda ekstrem di internet.
Di sisi lain, Diskominfo Bontang akan memperkuat literasi digital masyarakat agar lebih kritis dalam menyaring konten media sosial. “Media sosial itu seperti dua sisi mata uang. Bisa memberi manfaat, tapi juga bisa berbahaya kalau tidak bijak digunakan,” jelas Andi.
Ia juga mengimbau orang tua dan guru agar lebih aktif mendampingi aktivitas digital anak melalui komunikasi terbuka, bukan dengan pendekatan yang mengekang. “Anak-anak perlu diajak berdialog agar mereka tidak mencari jawaban di ruang digital yang salah,” tegasnya.
Meski hingga kini belum ditemukan kasus serupa di Kota Bontang, pemerintah daerah menegaskan langkah antisipatif tetap dilakukan guna mencegah ancaman radikalisme yang dapat muncul sewaktu-waktu melalui ruang digital.