Harakatuna.com. Hebron – Tentara Israel kembali melancarkan serangan militer dan menerapkan langkah-langkah represif terhadap warga Palestina di kawasan Jabal Johar dan wilayah selatan Kota Hebron, Tepi Barat. Operasi tersebut telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut dan berdampak langsung pada sekitar 80.000 warga setempat.
Selama periode tersebut, warga Palestina mengalami pengepungan ketat, pemberlakuan jam malam, penggerebekan rumah-rumah penduduk, serta penangkapan yang dilakukan secara sewenang-wenang. Situasi ini menyebabkan aktivitas masyarakat lumpuh dan buruknya kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Pada Rabu (21/1), tentara Israel melaporkan menutup total akses masuk dan keluar kawasan dengan memasang gerbang besi serta memblokade jalan menggunakan bangkai kendaraan. Sebelumnya, jam malam sempat dilonggarkan selama beberapa jam. Namun, ketika warga keluar rumah untuk membeli kebutuhan pokok, mereka justru menjadi sasaran serangan.
Akibat kejadian tersebut, sedikitnya lima warga Palestina mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Kantor Berita Palestina, WAFA, melaporkan bahwa pengetatan kembali dilakukan tak lama setelah kejadian itu.
Aktivis lokal Farid Barqan menilai tindakan represif tentara Israel telah memberdayakan seluruh aspek kehidupan warga. Ia mengungkapkan bahwa pengepungan ini berdampak serius terhadap ketersediaan kebutuhan dasar masyarakat. “Kami menghadapi kekurangan pasokan makanan dan obat-obatan, termasuk bagi pasien dengan penyakit kronis. Bahkan warga yang membutuhkan cuci darah kesulitan mengakses rumah sakit,” ujar Farid.
Selain krisis kemanusiaan, dampak ekonomi juga dirasakan warga. Lebih dari 100 peternakan sapi perah yang dilaporkan tidak dapat mendistribusikan hasil produksinya ke pabrik pengolahan. Padahal, peternakan tersebut menghasilkan sekitar 70 ton susu setiap hari.
Kondisi ini menyebabkan kerusakan produk dan kerugian ekonomi besar bagi ratusan keluarga yang menggantungkan kehidupan pada sektor tersebut. Serangan dan ambil bagian ini semakin menambah penderitaan warga Palestina di Hebron, yang selama ini telah hidup di bawah blokade dan terus menghadapi berbagai pelanggaran hak asasi manusia akibat operasi militer Israel.