Harakatuna.com. Islamabad — Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kerangka awal menuju kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari 100 hari. Menurutnya, proses negosiasi saat ini telah mendekati tahap akhir meski sejumlah detail masih dibahas.
Pakistan termasuk berpartisipasi dalam mendorong upaya mediasi antara kedua pihak guna mengakhiri ketegangan di kawasan Timur Tengah dan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini terdampak konflik.
Dalam pernyataannya melalui platform X, Sharif mengatakan pemerintah Pakistan terus berkomunikasi dengan semua pihak terkait untuk memastikan proses perdamaian dapat dilanjutkan. “Kami bekerja sama dengan kedua belah pihak untuk menyelesaikan langkah selanjutnya dari proses ini,” tulis Sharif.
Ia menambahkan bahwa peluang tercapainya perdamaian saat ini berada pada titik yang paling dekat dibandingkan sebelumnya. “Perdamaian belum pernah sedekat ini,” ujarnya.
Meski begitu, Sharif juga mengakui masih terdapat sejumlah laporan yang berbeda terkait isi nota kesepahaman yang sedang dibahas. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut peluang tercapainya kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat dan Israel semakin terbuka.
Dalam keterangannya kepada media Iran, Araghchi menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada dokumen yang ditandatangani secara resmi. Ia menjelaskan bahwa skema yang sedang dipertimbangkan terdiri atas dua tahap. Tahap pertama berupa nota kesepahaman yang mencakup penghentian pertempuran, termasuk penghentian serangan di Lebanon serta komitmen untuk tidak kembali melakukan serangan.
Tahap kedua akan membahas isu-isu strategis, termasuk masa depan program nuklir Iran, pencabutan sanksi, serta pencairan aset milik Iran. Araghchi juga menegaskan bahwa status Selat Hormuz tetap berada di bawah yurisdiksi Iran dan Oman, dengan mekanisme pengelolaan yang akan dibahas lebih lanjut.
Meski menunjukkan optimisme, Iran tetap menekankan pentingnya jaminan implementasi dari setiap kesepakatan yang dicapai. Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, turut memberi sinyal agar seluruh pihak memegang komitmen yang telah disepakati.
“Komitmen yang dibuat harus ditepati. Tidak ada alasan untuk mengingkarinya,” tulisnya melalui akun X.
Di sisi lain, seorang pejabat senior Amerika Serikat menyampaikan bahwa proses perundingan memang belum selesai, tetapi sudah berada pada tahap yang sangat dekat menuju penyelesaian. Menurut pejabat tersebut, catatan kesepahaman yang tengah dibahas mencakup kemungkinan keringanan sanksi dan pencairan aset Iran secara bertahap sebagai ketidakseimbangan atas izin program nuklir dan mengirimkan materi nuklir.
Namun, ia menegaskan bahwa penerapan kebijakan tersebut akan bergantung pada kepatuhan Iran terhadap seluruh poin yang disepakati dalam perjanjian awal. Negosiasi teknis mengenai rincian pelaksanaan akan dilanjutkan setelah kesepakatan awal tercapai.