Harakatuna.com. Surabaya — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jawa Timur menggelar forum edukasi untuk mendorong masyarakat agar lebih cerdas, kritis, dan bijak dalam menggunakan media sosial. Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pengurus MUI, FKPT, Fatayat, Muslimat, PMII, Aisyiyah, RMI, hingga HMI.
Dalam sambutannya, Sekretaris Umum MUI Jawa Timur kekhawatiran kekhawatiran terhadap penyebaran paham radikal yang dinilai mulai merambah berbagai sektor strategi di Indonesia. Ia menyoroti adanya laporan yang menunjukkan indikasi masuknya paham fundamentalis ke sejumlah lingkungan, termasuk aparatur negara, perguruan tinggi, dan sektor BUMN.
“Di dalamnya terdapat peran penting Majelis Ulama Indonesia bersama badan yang menangani pemberantasan terorisme dan radikalisme, termasuk sinergi dengan BNPT dan FKPT di Jawa Timur untuk mengantisipasi berbagai tantangan tersebut,” ujarnya pada Kamis (11/06) di Kantor MUI Jawa Timur.
Menurutnya, kolaborasi antar lembaga dan penguatan edukasi masyarakat menjadi langkah penting untuk mencegah berkembangnya pemahaman yang berpotensi mengancam persatuan masyarakat.
Pesan mengenai pentingnya literasi digital juga disampaikan dalam forum melalui analogi penggunaan media sosial yang diibaratkan seperti air.
“Media sosial itu seperti air. Jika dikelola dengan baik akan menjadi sumber kehidupan, tetapi jika diabaikan bisa berubah menjadi banjir yang menenggelamkan,” ungkap perwakilan penyelenggara saat menyiarkan kegiatan.
Peserta forum pun diajak untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan mengendalikan aktivitas digital mereka agar tidak ikut menyebarkan konten yang bersifat provokatif ataupun memicu perpecahan.
Sementara itu, narasumber forum utama, Prof. Dr. Hj. Mutimadul Faidah, M.Ag., selaku pengurus Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PPRK) MUI Jawa Timur, mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai dasar yang menjadi landasan bangsa Indonesia.
“Bangsa kita dibangun oleh cinta, dibangun oleh kekeluargaan, serta tumbuh di atas nilai lingkungan dan perdamaian,” kata Prof. Mutimadul di hadapan peserta.
Ia menilai semangat persatuan dan kehidupan yang damai menjadi modal utama yang membuat Indonesia mampu bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan yang terus muncul.
Dalam paparannya, Prof. Mutimadul juga menyoroti tingginya paparan konten digital yang memuat narasi kekerasan dan penolakan terhadap nilai persahabatan di ruang siber. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena berpotensi mempengaruhi cara pandang masyarakat jika dikonsumsi tanpa penyaringan.
“Jika narasi seperti ini terus dikonsumsi setiap hari, maka gambaran yang menggambarkan Indonesia sebagai negara yang rusak atau harus mengganti sistem dan ideologinya dapat dengan mudah menyebar,” jelasnya.
Melalui forum ini, MUI Jawa Timur dan FKPT berharap membangun langkah berkelanjutan bersama seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat literasi digital, membentengi pola pikir umat, serta menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.