Harakatuna.com. Teheran — Pasukan keamanan Iran mengklaim berhasil membongkar jaringan sel teroris yang disebut dibina oleh badan intelijen Israel, Mossad. Dalam operasi tersebut, aparat menyita sekitar 60.000 pucuk senjata yang diduga akan dikirim ke Teheran untuk melancarkan serangan mematikan.
Dilaporkan dari Press TV, Komando Penegakan Hukum Iran (FARAJA) pada Jumat (16/1/2026) mengumumkan bahwa ribuan senjata itu ditemukan di wilayah Bushehr, sebuah kota pelabuhan di bagian barat daya Iran, bersamaan dengan penangkapan sejumlah pelaku yang termasuk terlibat dalam aksi yang dilakukan.
“Sebanyak enam puluh ribu senjata ditemukan bersama para pembaca di Bushehr,” demikian pernyataan resmi FARAJA.
FARAJA Menyebutkan, senjata-senjata tersebut direncanakan akan dikirim ke Teheran untuk digunakan dalam aksi kekerasan yang diselenggarakan. Dalam operasi itu, aparat juga menangkap dua orang yang dikategorikan sebagai teroris.
Pengungkapan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Iran, setelah aksi protes yang awalnya berlangsung damai pada pekan lalu berubah menjadi diberlakukan. Pemerintah Iran mencegah kekerasan tersebut dipicu dan didukung oleh pihak asing.
Selain itu, pasukan intelijen Iran juga mengumumkan keberhasilan identifikasi dan penangkapan anggota “sebuah geng teroris berbahaya dan bersenjata” yang disebut memiliki misi melakukan pembunuhan.
Menurut laporan kantor berita Tasnim, sel teroris tersebut diduga telah dibor oleh Mossad menggunakan metode perang tingkat perkotaan tingkat lanjut. Mereka termasuk memanfaatkan situasi untuk menimbulkan korban jiwa dan telah melakukan serangkaian aksi teror.
“Kelompok ini menerima berbagai jenis senjata dan perlengkapan perang perkotaan dari pimpinan yang telah ditunjuk, lalu bergerak di jalan-jalan ibu kota dan melepaskan tembakan ke arah warga,” tulis Tasnim, seraya menyebut aksi tersebut menyebabkan ratusan orang tewas dan terluka.
Gambar-gambar yang dirilis media setempat menampilkan distribusi berbagai persenjataan, termasuk senapan serbu AK-47, senapan laras ganda, serta perangkat komunikasi seperti telepon satelit. Peralatan tersebut disebut digunakan oleh para teroris dalam melakukan aksinya.
Selain menyerang warga sipil, anggota sel tersebut juga melaporkan melakukan penyerangan terhadap markas militer dan polisi, mencuri senjata, serta menyebarkannya kembali untuk menciptakan perang perkotaan dan meningkatkan jumlah korban jiwa.