Harakatuna.com. Malang – Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) menggelar acara Silaturahmi dan Dialog Kebangsaan bersama organisasi daerah dan organisasi mahasiswa di Auditorium Multikultural kampus tersebut, Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan bertema “Moderasi Beragama: Menangkal Radikalisme di Kampus” ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis Unikama ke-69 yang puncaknya akan berlangsung pada 20 Mei 2026.
Suasana auditorium tampak dipenuhi mahasiswa, perwakilan organisasi kemahasiswaan, serta tokoh lintas agama dari wilayah Malang Raya. Sejumlah perwakilan agama seperti Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha turut hadir dalam dialog kebangsaan yang berlangsung hangat dan penuh kebersamaan.
Wakil Rektor I Unikama, Choirul Huda, dalam berbagai tekanan pentingnya pemahaman yang tepat bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam menyikapi bahaya radikalisme.
Ia menegaskan bahwa moderasi beragama menjadi kunci untuk menjaga dan merawat keberagaman di tengah masyarakat.
“Moderasi beragama menjadi sarana penting untuk menjaga keseimbangan antara hak beragama dan komitmen kebangsaan, sehingga kehidupan berbangsa dapat berjalan damai dan toleran,” ujarnya.
Dialog kebangsaan tersebut menghadirkan narasumber utama Islah Bahrawi. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya komunikasi sebagai kunci dalam membangun toleransi dan memperkuat keharmonisan di tengah keberagaman.
“Dalam hal toleransi, komunikasi adalah segalanya. Kita tidak perlu terjebak dalam sekat-sekat yang justru menghambat kemajuan dan cara berpikir kita,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Menurutnya, seluruh ajaran agama pada dasarnya mengarah pada nilai-nilai kebaikan.
“Akhlakul karimah menjadi tolok ukur keberagaman yang baik. Kita harus menghargai siapa pun selama memiliki akhlak yang baik,” tambahnya.
Islah juga mengajak para peserta untuk menumbuhkan empati serta semangat memanusiakan sesama manusia. Ia menilai keberagaman merupakan anugerah besar yang harus dijaga bersama, khususnya bagi bangsa Indonesia.
Dialog persahabatan yang berlangsung interaktif ini diikuti perwakilan organisasi daerah, organisasi mahasiswa, BEM, serta berbagai komunitas lain di lingkungan kampus dan Malang Raya.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus memperkuat moderasi beragama di lingkungan kampus sebagai benteng utama dalam menangkal penyebaran paham radikalisme.