Harakatuna.com. Addis Ababa — Pemerintah Maroko mendorong integrasi isu iklim, perdamaian, dan keamanan dalam strategi baru Uni Afrika (AU) untuk kawasan Sahel. Seruan tersebut disampaikan dalam pertemuan Dewan Perdamaian dan Keamanan AU yang digelar pada Senin.
Delegasi Maroko menilai pendekatan terpadu sangat penting untuk mengatasi kompleksitas krisis di kawasan Sahel dan Cekungan Danau Chad, yang saling terhubung dan sama-sama rentan terhadap konflik serta bencana kemanusiaan. Kawasan kedua saat ini menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari ancaman terorisme oleh kelompok seperti Boko Haram dan Islamic State West Africa Province, hingga dampak perubahan iklim yang memicu kekeringan, banjir, serta krisis pangan.
Dalam forum tersebut, Maroko juga mendorong lahirnya posisi bersama negara-negara Afrika terkait keterkaitan antara isu iklim, perdamaian, dan keamanan. “Integrasi dimensi iklim dalam kebijakan perdamaian dan keamanan menjadi kebutuhan mendesak untuk menjawab tantangan multidimensi di kawasan Sahel,” demikian disampaikan utusan Maroko dalam pertemuan.
Selain itu, Maroko memberikan apresiasi kepada Komisi Iklim AU untuk kawasan Sahel agar bersedia merespons tantangan perubahan iklim di wilayah tersebut. Delegasi tersebut menekankan bahwa Afrika merupakan benua yang paling rentan terhadap dampak pemanasan global, meskipun hanya menyumbang kurang dari 4 persen emisi gas rumah kaca dunia. Dampak yang dirasakan meliputi peningkatan suhu ekstrem, kekeringan berkepanjangan, hingga banjir besar.
Kondisi ini dinilai berpotensi mengancam ketahanan pangan, memicu perekonomian masyarakat secara besar-besaran, serta menghambat pertumbuhan ekonomi di berbagai negara Afrika. Sementara itu, Dewan Perdamaian dan Keamanan AU menekankan pentingnya memasukkan isu iklim dalam kebijakan pembangunan, perdamaian, dan keamanan. Lembaga tersebut juga menyoroti perlunya strategi adaptasi dan ketahanan yang inklusif, didukung oleh pembiayaan iklim, transfer teknologi, serta penguatan kapasitas di negara-negara Afrika.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat respons kolektif Afrika dalam menghadapi krisis multidimensi yang semakin kompleks di kawasan Sahel dan sekitarnya.