Harakatuna.com. Beirut — Sejumlah negara di Eropa dan kawasan Arab mendesak Israel segera menghentikan serangan militernya ke Lebanon, khususnya di ibu kota Beirut. Desakan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Tekanan tersebut datang dari berbagai negara Eropa, negara-negara Teluk, serta Mesir. Seorang diplomat Barat menyebut langkah yang dilakukan untuk mencegah serangan udara Israel ke Beirut setelah peristiwa yang dikenal sebagai “Rabu Hitam”, yang memicu ketegangan baru di kawasan.
Menteri Pekerjaan Umum dan Transportasi Lebanon, Fayez Rasamni, mengatakan pihaknya telah menerima jaminan dari sejumlah diplomat asing bahwa Bandara Internasional Beirut tidak akan menjadi sasaran serangan.
Sementara itu, Direktur rumah sakit umum terbesar di Lebanon, Mohammad Zaatari, menyampaikan bahwa pihaknya juga menerima jaminan dari berbagai pihak, termasuk Komite Internasional Palang Merah (ICRC), bahwa fasilitas kesehatan tidak akan diserang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga meminta Israel membatalkan peringatan di distrik Jnah, Beirut. Saat ini sekitar 450 pasien masih dirawat di Rumah Sakit Rafic Hariri dan Al-Zahraa, termasuk 40 pasien yang berada dalam kondisi kritis.
Di wilayah Lebanon selatan, serangan Israel dilaporkan masih berlangsung hingga Jumat dan menghancurkan sejumlah desa. Fotografer AFP melihat petugas pemadam kebakaran mengupayakan emisi api di bangunan yang rusak akibat serangan di Habbouch, dekat Nabatiyeh.
Di sisi lain, kelompok Hizbullah mengklaim telah meluncurkan roket ke wilayah utara Israel serta menyerang pasukan Israel di wilayah perbatasan.
Serangan Israel ke Lebanon terus terjadi meskipun sebelumnya diumumkan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Namun Israel dan Amerika Serikat menegaskan bahwa perjanjian tersebut tidak mencakup wilayah Lebanon.