Harakatuna.com. Yerusalem — Empat warga Palestina, termasuk seorang remaja, didakwa atas tuduhan terorisme setelah diduga merencanakan serangan terhadap warga sipil dan aparat keamanan yang terinspirasi oleh kelompok ISIS.
Kantor Kejaksaan Negara menyatakan para tersangka, yakni Majed Halayla (31), Mohammed Sabah (22), Omar Abu al-Amal (26), serta seorang remaja berusia 16 tahun, diajukan ke Pengadilan Distrik Yerusalem dengan sejumlah dakwaan serius.
Dakwaan tersebut meliputi keanggotaan dalam organisasi teroris, penipuan anggota baru, serta konspirasi untuk melakukan aksi teror yang berpotensi menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Dalam dokumen dakwaan disebutkan bahwa para tersangka membentuk sel yang terinspirasi ISIS dan aktif mempelajari berbagai metode serangan, mulai dari menembak, tabrak lari kendaraan, hingga penggunaan bahan peledak.
“Para bertujuan untuk memajukan rencana tersebut, termasuk dengan mengumpulkan informasi mengenai sasaran, mempelajari penggunaan senjata, serta merancang pelatihan bergaya militer sebagai persiapan serangan,” demikian pernyataan dalam dakwaan.
Sejumlah lokasi yang diduga menjadi target di kawasan tersebut Gerbang Damaskus serta organisasi Kiryat Arba di dekat Hebron. Penyelidikan juga mengungkap bahwa para tersangka kerap mengonsumsi konten propaganda ISIS secara berani, yang menampilkan aksi kekerasan ekstrem. Beberapa di antaranya bahkan disebut telah bergabung dengan jaringan tersebut dan berusaha merekrut anggota baru.
Dalam setahun terakhir, aparat keamanan Israel mencatat peningkatan kasus individu yang diperkirakan merencanakan serangan setelah menyatakan kesetiaan kepada ISIS, kelompok yang muncul di Suriah dan Irak pada tahun 2013.
Pada bulan Februari lalu, aparat juga menangkap sejumlah militan yang diduga terafiliasi ISIS di Jericho karena merencanakan serangan serupa. Kasus lain terjadi pada bulan Desember, ketika seorang pemuda berusia 20 tahun dari Daburiyya didakwa atas keanggotaan dalam ISIS dan kontak dengan agen asing. Pada periode yang sama, seorang remaja 18 tahun dari Negev juga merencanakan serangan terhadap tentara di sebuah terminal bus di Beersheba.
Jaksa menyebut, dalam salah satu kasus, tersangka awalnya berencana melakukan penusukan, namun kemudian berubah menjadi rencana aksi bom bunuh diri. Otoritas menyatakan akan terus meningkatkan pengawasan terhadap potensi ancaman teror, terutama yang dipicu oleh penyebaran propaganda ekstrem di ruang digital.