Harakatuna.com. Washington — Presiden Suriah Ahmed al‑Sharaa dijadwalkan melakukan kunjungan bersejarah ke Gedung Putih pada awal November 2025, menandai langkah diplomasi baru antara Suriah dan Amerika Serikat. Kunjungan ini dianggap sebagai momen penting untuk membuka “babak baru” dalam hubungan bilateral yang sempat tegang selama beberapa dekade.
Menteri Luar Negeri Suriah, Asad al‑Shaibani, menegaskan bahwa agenda kunjungan meliputi pembicaraan mengenai sanksi pencabutan serta penguatan kerja sama antara kedua negara. “Ini adalah kunjungan bersejarah, kunjungan pertama oleh seorang presiden Suriah ke Gedung Putih dalam lebih dari 80 tahun,” ujar al‑Shaibani.
“Akan banyak hal yang dibahas, mulai dari pencabutan sanksi hingga membuka babak baru hubungan antara Amerika Serikat dan Suriah. Kami ingin membangun kemitraan yang kuat antara kedua negara.”
Kunjungan ini terjadi setelah Ahmed al‑Sharaa menjabat sebagai presiden transisi Suriah menggantikan pemerintahan Bashar al‑Assad yang berakhir Desember 2024. Dalam periode ini, Dewan Keamanan PBB mencabut sanksi terhadap al‑Sharaa dan pejabat terkait, menandai pengakuan internasional terhadap perubahan orientasi pemerintahannya. “Langkah ini membuka jalan bagi Suriah untuk kembali berpartisipasi dalam diplomasi global secara penuh,” jelas laporan dari saudigazette.com.sa.
Ahmed al‑Sharaa memiliki sejarah kompleks. Sebelumnya ia merupakan pemimpin kelompok pemberontak Islam dan pernah menjadi target hadiah dari pemerintah AS senilai sekitar Rp 166 miliar untuk penangkapannya.
“Meskipun masa lalunya kontroversial, al‑Sharaa telah bergerak untuk memperbaiki citra Suriah di mata dunia,” catat international.sindonews.com.
Al‑Sharaa juga menjadi presiden Suriah pertama yang menghadiri sidang umum PBB sejak tahun 1967, menunjukkan niatnya untuk menempatkan Suriah kembali di panggung diplomasi internasional.
Kunjungan Implikasi
Para analis menilai kunjungan ini membawa beberapa peringatan penting:
- Diplomasi dan sanksi – Visi membuka peluang pembicaraan mengenai pencabutan sanksi ekonomi yang telah ditangguhkan Suriah bertahun-tahun.
- Keamanan dan anti-terorisme – Kerja sama dalam isu keamanan dan kontra-terorisme akan menjadi bagian penting dari pembicaraan bilateral.
- Rekonstruksi ekonomi – Suriah yang terdampak konflik panjang berpotensi mendapatkan investasi dan bantuan internasional untuk rekonstruksi.
- Kontroversi – Latar belakang al‑Sharaa sebagai mantan militan tetap menimbulkan keraguan sebagian pengamat internasional mengenai legitimasi dan keamanan normalisasi hubungan.
Kunjungan Ahmed al‑Sharaa ke Gedung Putih diperkirakan menjadi momentum penting dalam hubungan Suriah–Amerika Serikat, sekaligus menguji kemampuan kedua negara untuk membangun kepercayaan setelah dekade ketegangan.