Harakatuna.com. Mandau — Pemerintah Kecamatan Mandau menjalin kerja sama dengan Densus 88 Antiteror Polri untuk memperkuat langkah pencegahan radikalisme dan terorisme, terutama di kalangan generasi muda. Kolaborasi ini dilakukan setelah aparat antiteror menemukan peningkatan kasus anak–anak yang terpapar paham radikal melalui aktivitas bold, termasuk media sosial dan gim online.
Dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Mandau, perwakilan Densus 88 menjelaskan bahwa pola pengintaian jaringan terorisme kini semakin banyak memanfaatkan ruang digital. Mereka mengungkap bahwa proses penarikan anggota sering kali dimulai melalui interaksi tanpa tatap muka, menggunakan media sosial, ruang dialog gim, hingga grup-grup privat. Anak-anak usia 10 hingga 18 tahun termasuk sebagai kelompok yang paling rentan terpengaruh karena aktif di dunia maya dan kerap kurang pengawasan.
Pihak Densus 88 menegaskan bahwa para perekrut umumnya menggunakan pendekatan bertahap: dimulai dengan komunikasi ringan, lalu mengarahkan calon korban pada materi-materi ideologi melalui ruang percakapan yang lebih tertutup. Mereka menyampaikan bahwa fenomena ini terus berkembang dan memerlukan kewaspadaan semua pihak, terutama orang tua dan institusi pendidikan.
Camat Mandau menyatakan bahwa berencana siap bersinergi dengan aparat antiteror. Ia menyampaikan bahwa pemerintah kecamatan akan berperan dalam edukasi masyarakat, penguatan literasi digital, dan peningkatan pengawasan terhadap aktivitas berani anak-anak. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah dan aparat keamanan sangat penting agar upaya pencegahan tidak hanya terjadi setelah ada kasus, melainkan sejak dini melalui penyadaran masyarakat.
Selain itu, Camat menilai bahwa radikalisme bukan hanya persoalan penegakan hukum, namun juga tantangan sosial yang perlu ditangani melalui pendekatan komunitas. Oleh karena itu, pihak kecamatan akan mendorong kerja sama dengan sekolah, tokoh masyarakat, serta organisasi pemuda untuk memastikan pencegahan pesan dapat menyentuh berbagai lapisan masyarakat.
Di tingkat nasional, Densus 88 sebelumnya melaporkan bahwa ratusan anak telah terpapar paham radikal melalui internet selama beberapa tahun terakhir. Lonjakan ini dinilai berdampak pada meningkatnya aktivitas digital tanpa pengawasan serta rendahnya literasi digital pada sebagian keluarga.
Kerja sama Mandau–Densus 88 diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam memperkuat langkah pencegahan di wilayah masing-masing. Pemerintah kecamatan menegaskan komitmennya untuk menjaga ruang digital anak muda tetap aman dan membentengi masyarakat dari ancaman ideologi ekstrem.