Harakatuna.com. Damaskus – Pasukan Israel Defense Forces (IDF) melakukan serangan dini hari pada Jumat (28/11/2025) di desa Beit Jinn, pedesaan Damaskus, Suriah — menewaskan setidaknya 13 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, serta melukai puluhan lainnya.
Menurut media pemerintah Suriah, serangan tersebut juga memaksa puluhan keluarga untuk mengungsi, meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Pasukan Israel mengaku serangan itu bertujuan untuk menangkap tersangka anggota kelompok militan Jamaa Islamiya yang diduga merencanakan serangan bom rakitan dan roket ke Israel.
Namun menurut penduduk setempat, ketika tentara memasuki desa sekitar pukul 03.00, “kami terbangun oleh suara tembakan,” kata seorang korban luka yang dirawat di rumah sakit di Damaskus. Ia menceritakan bahwa setelah tentara dan tank Israel tiba, angkatan udara ikut mendukung serangan dengan helikopter dan drone — dan bahkan kendaraan yang membawa korban luka ke rumah sakit ikut ditembaki.
Seorang pejabat lokal di Beit Jinn, Walid Okasha, menyatakan bahwa korban yang terbunuh adalah warga sipil, dan desa tersebut merupakan komunitas damai — bukan basis militan. Sementara militer Israel mengklaim bahwa dalam operasi tersebut, “semua tersangka telah ditahan atau dilumpuhkan.” Mereka juga menyatakan enam tentara mereka terluka, tiga di antaranya dalam kondisi kritis.
Kecaman dari PBB dan Suriah
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) — melalui Najat Rochdi, Wakil Utusan Khusus untuk Suriah — mengutuk keras serangan tersebut. Rochdi menyebut tindakan itu sebagai “pelanggaran berat dan tidak dapat diterima terhadap keamanan dan keutuhan wilayah Suriah.”
Ia juga mendesak untuk segera menyebarkan semua serangan serupa dan memancarkan agar pihak-pihak menghormati perjanjian gencatan senjata lama, yaitu Perjanjian Pelepasan 1974. Di pihak Suriah, Kementerian Luar Negeri menyebut serangan ini sebagai “kejahatan perang” — menuduh bahwa penembakan terhadap desa sipil dan pemboman berikutnya merupakan upaya sistematis yang bertujuan menimbulkan ketakutan dan ketidakstabilan.
Serangan ini menambah panjang insiden militer Israel di wilayah selatan Suriah — sejak penghentian rezim terdahulu dan pengambilalihan zona demiliterisasi di dekat bagian Dataran Tinggi Golan pada akhir 2024.
Operasi militer yang melibatkan pasukan darat, artileri, drone, dan helikopter seperti ini menimbulkan kekhawatiran luas soal keselamatan warga sipil, pelanggaran hukum internasional, dan stabilitas kemerosotan regional.
Serangan di desa Beit Jinn — dengan korban sipil yang signifikan, klaim militer Israel, serta kecaman keras dari PBB dan Suriah — menunjukkan eskalasi serius dalam konflik yang sudah berlangsung lama di Suriah. Tuntutan internasional kini semakin mendesak agar pihak-pihak tersebut menghentikan kekerasan, menghormati kedaulatan Suriah, dan melindungi warga sipil.