Harakatuna.com. Damaskus – Pelarian massal dilaporkan terjadi bulan lalu di Kamp al-Hol, Suriah, yang sebelumnya menampung puluhan ribu orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris ISIS. Insiden tersebut terjadi setelah Pasukan Demokratik Suriah (SDF) menarik diri dari kamp, memicu kekhawatiran bahwa ribuan penduduk melarikan diri.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah, Nureddin Baba, seperti dikutip CNN, menyatakan bahwa SDF mundur tanpa berkoordinasi dengan pemerintah Suriah maupun didukung pimpinan Amerika Serikat yang selama ini memerangi ISIS.
“SDF mundur tanpa berkoordinasi dengan pemerintah Suriah maupun pemerintahan pimpinan AS,” ujar Baba.
Menurutnya, otoritas menemukan lebih dari 100 titik pelanggaran di dinding perimeter kamp yang diduga mempermudah penyelundupan dan pengungsi. Jumlah pasti orang yang kabur masih dalam proses verifikasi.
SDF membantah tudingan tersebut dan menyebut pernyataan pemerintah sebagai informasi “menyesatkan”. Mereka justru menuduh faksi-faksi yang berafiliasi dengan Damaskus memasuki kamp dan mengeluarkan keluarga anggota ISIS. Penarikan pasukan, menurut SDF, dilakukan untuk mencegah kamp berubah menjadi medan pertempuran terbuka akibat mobilisasi militer pemerintah di sekitar lokasi.
Kekhawatiran terkait skala pengungsi juga tercermin dalam memo internal kepada anggota negara-negara Uni Eropa yang memperingatkan bahwa ribuan orang—yang disebut sebagai sebagian besar penghuni kamp—mungkin telah melarikan diri. Status warga negara asing yang kabur masih belum jelas.
Sementara itu, The Wall Street Journal mengutip badan intelijen AS yang memperkirakan antara 15.000 hingga 20.000 orang, termasuk afiliasi ISIS, kini berada dalam pengungsi di Suriah akibat eksodus dari Kamp al-Hol. Angka tersebut belum dapat ditambang secara independen.
Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Kamp al-Hol menampung lebih dari 30.000 orang. Lebih dari separuh penghuninya merupakan anak-anak, sebagian besar berusia di bawah 12 tahun.
Situasi keamanan di timur laut Suriah memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Pasukan pemerintah merebut wilayah luas yang sebelumnya dikuasai SDF, termasuk area yang menjadi lokasi penjara dan kamp tahanan ISIS. Pada periode yang sama, tahanan juga melaporkan pelarian diri dari Penjara al-Shaddadi yang, menurut SDF, menahan ribuan anggota ISIS.
SDF selama ini menjadi mitra utama Amerika Serikat dalam memerangi ISIS di Suriah. Namun, menarik pasukan AS pada 2019 memuat posisi kelompok tersebut. Dinamika politik semakin kompleks setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir tahun 2024 dan naiknya Ahmad al-Sharaa sebagai presiden Suriah.
Koalisi pimpinan AS sebelumnya mengandalkan SDF untuk menjaga penjara-penjara ISIS. Namun, SDF kini mengalami kegagalan menahan laju pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Suriah.
Di tengah situasi tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) awal bulan ini mengumumkan telah menyelesaikan misi selama 23 hari untuk memindahkan lebih dari 5.700 tahanan ISIS dari timur laut Suriah ke Irak. Langkah itu bertujuan untuk memastikan para penjaga tetap berada dalam pengawasan ketat serta mengurangi risiko kebangkitan ISIS.
ISIS sendiri merupakan kelompok yang muncul dari sisa-sisa al-Qaeda di Irak dan pernah menguasai sekitar wilayah Suriah dengan Raqqa sebagai pusat kekuasaan. Meski dinyatakan kalah pada tahun 2019, sel-sel ISIS masih beroperasi secara tersembunyi di Suriah dan Irak. Sejumlah negara serta kawasan sekutu Barat telah memperingatkan potensi kebangkitan kelompok tersebut di tengah ketidakstabilan politik.
Tekanan internasional juga meningkat ke sejumlah negara, termasuk Australia, Amerika Serikat, dan Inggris, untuk memulangkan ribuan warganya—sebagian besar perempuan dan anak-anak—yang masih berada di kamp-kamp terpencil Suriah sejak runtuhnya ISIS lebih dari lima tahun lalu.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, pekan lalu menyatakan negaranya tidak akan memulangkan warga yang memiliki kaitan dengan ISIS. Pernyataan itu muncul setelah laporan bahwa 34 perempuan dan anak-anak Australia dibawa oleh otoritas Suriah setelah meninggalkan Kamp al-Roj, yang juga menampung militan ISIS dan keluarga mereka.
Kamp al-Roj diketahui menampung Shamima Begum, warga Inggris yang meninggalkan London pada usia 15 tahun untuk bergabung dengan ISIS pada tahun 2015 dan kemudian dicabut kewarganegaraannya.
Pemerintah Suriah, seperti dikutip Associated Press, menyatakan resolusi Kamp al-Hol diambil karena lokasinya yang terpencil di wilayah gurun serta berdekatan dengan wilayah yang belum sepenuhnya berada di bawah kendali otoritas. Meski sebagian besar penghuninya tidak pernah didakwa melakukan kejahatan, mereka selama bertahun-tahun berada dalam terasing secara de facto di fasilitas yang dijaga ketat tersebut.
Baba menegaskan bahwa perempuan, anak-anak, dan lansia di kamp tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai pelaku kejahatan hanya karena hubungan keluarga mereka.
“Mereka bukan kriminal karena hubungan keluarga mereka, tetapi mereka membutuhkan perlindungan dan bantuan,” ujarnya.
Menurut Baba, pihak berwenang telah memindahkan banyak penghuni ke lokasi lain yang lebih mudah dijangkau lembaga-lembaga kemanusiaan. Anak-anak di lokasi baru tersebut akan mendapatkan pendidikan serta program rehabilitasi. Dalam beberapa pekan terakhir, ratusan penghuni Kamp al-Hol di Provinsi Hassakeh dipindahkan ke Kamp Akhtarin di Provinsi Aleppo, sementara sebagian lainnya dipindahkan ke Irak.
Pemerintah Suriah menegaskan akan menahan individu yang terbukti terlibat dalam tindak kejahatan. Setelah kekalahan ISIS pada tahun 2019, sekitar 73.000 orang tercatat tinggal di Kamp al-Hol, dan jumlah tersebut terus menurun seiring dengan sejumlah negara memulangkan warganya. Kementerian Luar Negeri Suriah kini berkomunikasi dengan pemerintah negara asal warga terkait untuk membahas langkah-langkah penanganan lanjutan.