Harakatuna.com. Damaskus – Pasukan keamanan Suriah mengklaim telah menyerahkan seorang pemimpin sel kelompok ISIS dalam operasi khusus di Kota Raqqa, Suriah. Tindakan tegas tersebut dilakukan menyusul dua serangan teroris yang terjadi dalam dua hari terakhir dan menargetkan pos pemeriksaan di bagian barat kota tersebut.
Kepala Keamanan Internal Provinsi Raqqa, Rami Assad al-Taha, dalam pernyataan resmi yang dirilis otoritas di negeri Suriah, mengungkapkan bahwa dua serangan tersebut mengakibatkan empat personel keamanan terbunuh.
“Dua serangan teroris dalam dua hari terakhir bertujuan pos pemeriksaan di bagian barat Kota Raqqa dan menyebabkan gugurnya empat anggota pasukan keamanan,” ujar al-Taha.
Merespons kejadian itu, aparat keamanan segera melancarkan operasi penindakan. Al-Taha menjelaskan bahwa unit-unit keamanan melakukan serangkaian penggerebekan pada dini hari di sejumlah lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian militan.
“Unit-unit keamanan melakukan serangkaian penyerbuan saat dini hari. Dalam operasi tersebut, pemimpin sel teroris berhasil dilumpuhkan bersama satu militan lainnya,” katanya.
Selain menampilkan dua orang, aparat juga menangkap empat tersangka lainnya yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut. Dalam operasi itu, petugas juga menyita sejumlah senjata api dan amunisi yang diyakini akan digunakan dalam aksi lanjutan.
“Pasukan keamanan terus melanjutkan operasi penyisiran di wilayah tersebut dan telah memperketat langkah-langkah pencegahan di berbagai pos pemeriksaan serta titik-titik strategi keamanan,” tambah al-Taha.
Sebelumnya, pada Senin (23/2), militan ISIS melakukan penyergapan terhadap sebuah pos pemeriksaan di wilayah barat Raqqa. Serangan itu disebut sebagai salah satu yang paling mematikan terhadap pasukan pemerintah sejak kota tersebut berada di bawah kendali sementara Suriah, menyusul penarikan mundur Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin etnis Kurdi pada awal tahun ini.
Raqqa memiliki sejarah panjang dalam konflik Suriah. Kota tersebut pernah menjadi ibu kota de facto kekhalifahan ISIS pada puncak kejayaan kelompok itu. Meski ISIS telah kehilangan sebagian besar wilayahnya, sel-sel kecil dan jaringan bawah tanahnya masih aktif dan kerap melancarkan serangan sporadis.
Dalam beberapa pekan terakhir, aktivitas militan di Raqqa dilaporkan meningkat kembali seiring pergeseran tanggung jawab keamanan di tengah dinamika politik dan militer yang lebih luas di wilayah timur laut Suriah. Situasi ini mendorong aparat keamanan untuk meningkatkan kewaspadaan guna mencegah kebangkitan kembali kelompok ekstremis tersebut.