Harakatuna.com. Jakarta – Memasuki bulan suci Ramadhan, berbagai elemen masyarakat menegaskan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk radikalisme dan intoleransi yang berpotensi mengganggu keharmonisan sosial. Ramadhan diharapkan menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat solidaritas, serta meneguhkan nilai-nilai persahabatan di tengah keberagaman Indonesia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengimbau masyarakat agar menjaga keharmonisan dan meningkatkan solidaritas sosial selama Ramadhan. Ia mengingatkan teladan Rasulullah SAW yang dikenal sebagai pribadi paling dermawan, terutama di bulan suci.
“Jadikan bulan ini sebagai momentum memperkuat solidaritas sosial. Pastikan keberkahan Ramadhan dapat dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat. Jadikanlah perbedaan sebagai rahmat, bukan sekat. Jangan biarkan perbedaan hitungan melunturkan kedekatan hati. Dalam perbedaan itulah kualitas toleransi kita diuji dan diuji,” ujar Nasaruddin.
Senada dengan itu, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi mengajak masyarakat untuk menjaga kerukunan di tengah derasnya arus digital selama Ramadhan 1447 Hijriah. Ia khawatir akan adanya kekhawatiran terhadap hoaks, kebencian, serta paham radikal yang kerap menyebar melalui media sosial.
“Kepada masyarakat di bulan suci Ramadhan harus menjaga toleransi dan persatuan di tengah tantangan arus digital saat ini. Kita menyadari era saat ini sangat memudahkan kita, tetapi di sisi lain ruang digital juga menjadi suburnya hoaks, kebencianan, dan radikalisme yang berpotensi merusak persatuan. Mari menjunjung toleransi dan saling menghormati satu sama lain, karena semua agama mengajarkan kita untuk saling menghormati dan menjaga persatuan,” ungkap Yudian.
Sementara itu, Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang turut mengajak seluruh umat Islam di Indonesia untuk menjalani ibadah Ramadhan 1447 Hijriah dengan penuh kekhusyukan dan semangat saling menghormati.
“Kami mengimbau umat Muslim Indonesia, mari kita beribadah dengan khusyuk, memperbanyak amal ibadah, dan pentingnya menjaga sikap toleransi selama bulan suci Ramadhan. Bagi masyarakat yang tidak berpuasa agar menghormati umat Islam yang menjalankan ibadah, begitu pula sebaliknya, demi menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat,” kata Marwan.
Berbagai imbauan tersebut menegaskan bahwa menjaga toleransi serta meningkatkan kewaspadaan terhadap radikalisme bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi seluruh lapisan masyarakat. Dengan semangat kebersamaan, Ramadhan diharapkan tidak hanya memperkuat keimanan, tetapi juga memperkokoh persatuan dan perdamaian bangsa.