Harakatuna.com. Beirut – Lebanon, melalui perantara Amerika Serikat, meminta Israel menghentikan serangan militernya menjelang rencana perundingan antara kedua pihak yang berlangsung pekan depan. Permintaan tersebut juga mendapat dukungan dari pemerintah Amerika Serikat.
Namun kini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum mengambil keputusan terkait permintaan tersebut. Informasi itu disampaikan oleh dua sumber yang mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan tersebut.
Sebelumnya, Netanyahu pada Kamis (9/4/2026) memutar kabinetnya untuk memulai perundingan langsung dengan Lebanon. Negosiasi tersebut bertujuan membahas pelucutan senjata kelompok Hizbullah serta upaya membangun perdamaian antara kedua pihak.
Instruksi itu muncul setelah adanya laporan mengenai gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat, yang juga mencakup penyimpanan pertempuran di Lebanon. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Hizbullah menangguhkan operasinya terhadap Israel.
Namun situasi justru kembali memanas ketika Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke ibu kota Beirut serta sejumlah kota di wilayah selatan Lebanon pada Rabu (8/4/2026). Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Hizbullah sehari setelahnya.
Mengutip laporan AFP yang dilansir Kompas.com, negosiasi antara Israel dan Lebanon direncanakan berlangsung di Washington pada pekan depan. “Mengingat permintaan berulang Lebanon untuk membuka negosiasi langsung dengan Israel, saya memiliki kabinet untuk memulai negosiasi tersebut sesegera mungkin,” ujar Netanyahu.
Menurutnya, pembahasan dalam perundingan akan terfokus pada pelucutan senjata Hizbullah serta upaya membangun hubungan damai antara kedua negara. Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan pemerintahnya terus menempuh jalur diplomasi yang mulai mendapat tanggapan positif dari komunitas internasional. Ia menegaskan bahwa solusi utama dari konflik yang berkepanjangan tercapai dengan gencatan senjata.
Di sisi lain, anggota parlemen dari Hizbullah, Ali Fayyad, menolak gagasan perundingan langsung dengan Israel. Ia menilai pendekatan tersebut tidak akan menyelesaikan konflik yang terjadi.