Harakatuna.com. Mamuju — Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Barat ketika menjadi narasumber dalam program podcast LPP RRI Mamuju dengan tema “Penguatan Wawasan Kebangsaan untuk Menghadapi Tantangan IRET” menekankan bahwa penguatan wawasan kebangsaan merupakan langkah strategis dan fundamental dalam mencegah penyebaran paham radikalisme dan kebencian di masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.
Dalam kegiatan Sosialisasi yang digelar di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Mamuju, perwakilan Kesbangpol Sulbar menekankan bahwa radikalisme tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga pelajar yang aktif di media sosial.
“Wawasan persahabatan harus dipahami sejak dini. Ketika generasi muda memiliki pemahaman yang kuat tentang Pancasila, NKRI, dan semangat kebhinekaan, mereka tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham ekstrem,” ujar pejabat Kesbangpol Sulbar saat memberikan materi kepada siswa.
Ia menjelaskan bahwa radikalisme dan terorisme saat ini banyak berkembang melalui ruang digital, termasuk media sosial, sehingga pelajar menjadi kelompok rentan. Oleh karena itu, penguatan nilai kebangsaan dinilai sebagai tameng awal yang efektif.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin membekali pelajar kemampuan untuk mengenali tanda-tanda penyebaran paham radikal, baik yang muncul secara langsung maupun melalui internet,” tambahnya.
Kesbangpol Sulbar juga menegaskan bahwa upaya pencegahan radikalisme tidak hanya menjadi tugas aparat keamanan, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Pendidikan karakter, literasi digital, serta pemahaman ideologi bangsa menjadi unsur penting dalam menjaga stabilitas daerah.
Selain memberikan edukasi mengenai bahaya radikalisme, Kesbangpol mengajak pelajar untuk memperkuat rasa cinta tanah air dengan memahami keberagaman sebagai kekuatan bangsa.
“Radikalisme tumbuh ketika wawasan persahabatan melemah. Oleh karena itu, kami terus turun ke sekolah-sekolah dan komunitas untuk memastikan anak-anak kita memiliki daya tangkal yang kuat,” jelas narasumber tersebut.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif dalam menjaga kerukunan serta memperkuat ketahanan ideologi di masyarakat Sulawesi Barat.