Harakatuna.com. Yerusalem — Washington — Para analis independen dan pemerintah Amerika Serikat menyebut benua Afrika khususnya kawasan Sub-Sahara telah menjadi pusat utama kekerasan jihadis global. Dalam kunjungan terbaru ke Afrika, Komandan Komando Afrika AS (AFRICOM) Jenderal Dagvin Anderson menjelaskan alasan kepergiannya para jihadis tersebut.
“Alasan utama saya datang ke sini adalah karena kita menghadapi ancaman yang sama,” tutur Jenderal Anderson
Pihaknya menekankan bahwa kerja sama internasional sangat mendesak. “Kita di sini untuk membantu memperkuat mitra Afrika dalam menghadapi ancaman ini secara bersama-sama,” tegasnya.
Menurut data terbaru dari lembaga penelitian kontra-terorisme, 86 persen dari seluruh kematian yang terkait aksi teror di dunia tahun lalu terjadi di 10 negara, di mana tujuh di antaranya berada di Afrika, dan lima di kawasan Sahel. “Dulu fokus ancaman utama berada di Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun sekarang pusat itu telah pindah ke Sahel, khususnya di wilayah tiga perbatasan antara Burkina Faso, Mali, dan Niger,” tulis para peneliti.
Kelompok ekstremis yang paling bertanggung jawab atas kematian di kawasan ini adalah Jama’a Nusrat ul‑Islam wa al‑Muslimin (JNIM) yang berafiliasi pada al-Qaeda. Mereka diperkirakan bertanggung jawab atas sekitar 83 persen dari total korban di wilayah tersebut.
Sementara itu di kawasan Tanduk Afrika (Gabungan kawasan timur laut Afrika), kombinasi kekuatan dari afiliasi ISIS, al-Qaeda, dan kelompok pemberontak lokal memperparah instabilitas. Kelompok seperti al‑Shabaab dan cabang lokal ISIS, IS‑Somalia Province, disebut sebagai penggerak utama ketidakamanan regional.
Tren Mengkhawatirkan
Analisis menunjukkan bahwa kekerasan jihadis, baik dari ISIS maupun al-Qaeda kini semakin intensif. Di Burkina Faso saja, JNIM mengklaim telah melancarkan lebih dari 280 serangan pada paruh pertama tahun 2025, dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 dengan korban tewas diperkirakan mencapai sekitar 8.800 jiwa di seluruh Sahel.
Lebih jauh lagi, perubahan geopolitik seperti melemahnya pemerintahan di beberapa negara Afrika, konflik internal, dan berkurangnya kehadiran pasukan asing, serta memperparah situasi dan memberi celah bagi kelompok militan untuk memperluas pengaruh.