Harakatuna.com. Aleppo —Kelompok militan ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap seorang anggota tentara Suriah di wilayah utara Aleppo, Rabu (29/4/2026).
Dalam pernyataan yang dirilis melalui Amaq News Agency, kelompok tersebut menyebut serangan terjadi di Kota al-Rai, kawasan pedesaan utara Aleppo. Serangan dilakukan menggunakan senjata mesin dan menyebabkan satu prajurit tewas di tempat.
“Seorang anggota tentara Suriah tewas setelah menjadi sasaran serangan langsung oleh pejuang ISIS di al-Rai,” demikian pernyataan Amaq News Agency.
Kelompok itu juga mengklaim para pelaku berhasil mundur dengan aman setelah melakukan serangan. Aksi ini disebut sebagai operasi ketiga yang diklaim ISIS sepanjang April 2026 di sejumlah wilayah Suriah, menandakan peningkatan aktivitas kelompok tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak militer Suriah terkait rincian kejadian tersebut. Namun sejumlah laporan dari media internasional menunjukkan bahwa ISIS tengah berupaya menghidupkan kembali jaringan operasinya di Suriah. Serangan-serangan sporadis yang menyasar aparat keamanan disebut sebagai bagian dari strategi baru kelompok tersebut.
“ISIS mencoba mengaktifkan kembali sel-sel kecilnya untuk melancarkan serangan terbatas namun konsisten,” tulis laporan media Timur Tengah dalam analisis keamanan terbaru.
Selain di Aleppo, aktivitas ISIS juga dilaporkan meningkat di wilayah lain seperti Deir ez-Zor dan Raqqa. Dalam pernyataan sebelumnya, kelompok itu bahkan mengumumkan dimulainya “fase baru” operasi yang menargetkan aparat militer pemerintah.
Sementara itu, aparat keamanan Suriah dalam beberapa operasi terpisah dilaporkan juga berhasil mengungkap dan menangkap sel-sel ISIS di wilayah perkotaan, termasuk di Aleppo. Hal ini menunjukkan bahwa jaringan kelompok tersebut masih aktif meskipun tidak lagi menguasai wilayah secara terbuka.
Sejumlah analis keamanan menilai situasi ini dipengaruhi oleh kondisi keamanan yang belum sepenuhnya stabil pascakonflik di Suriah. “Selama masih ada celah keamanan dan ketidakstabilan, kelompok seperti ISIS akan terus mencoba bertahan dan bangkit kembali,” ujar seorang analis keamanan regional.
Perkembangan ini menyatakan bahwa ancaman ISIS belum sepenuhnya berakhir, meskipun kekuatan utamanya telah melemah dalam beberapa tahun terakhir.