Harakatuna.com. Teheran — Otoritas dan media resmi Iran menilai yang terjadi dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar aksi protes atau gangguan keamanan biasa. Pemerintah Iran menyebut kejadian tersebut sebagai operasi terorisme bersenjata yang terorganisasi dan telah dirancang sebelumnya.
Kantor Berita Tasnim, dalam laporannya pada Sabtu (10/1/2026), menyebutkan bahwa skala kerusakan, tingkat kekerasan, serta pola pergerakan kelompok inti di lapangan menunjukkan karakter operasi keamanan yang tidak lazim. Menurut Tasnim, karakteristik tersebut melampaui pola spontan yang pernah terjadi sebelumnya di Iran.
“Intensitas kekerasan, keserentakan serangan, serta pemilihan target strategi menunjukkan bahwa peristiwa ini tidak menghasilkan hal biasa, melainkan operasi yang direncanakan secara matang,” tulis Tasnim dalam laporannya.
Disebutkan pula bahwa kelompok inti pelaku merilis laporan menggunakan senjata dan melakukan serangan terkoordinasi terhadap sejumlah target simbol negara. Sasaran tersebut antara lain kantor gubernur, kantor kepolisian, pusat-pusat Basij, masjid, serta berbagai fasilitas negara lainnya.
Media resmi Iran menilai kombinasi penggunaan senjata, koordinasi lapangan, dan penentuan sasaran strategi menjadi indikator kuatnya perencanaan operasional. Oleh karena itu, otoritas setempat memandang situasi tersebut sebagai ancaman keamanan dengan dimensi terorisme bersenjata, bukan semata-mata mengganggu ketertiban umum.
Dalam konteks tersebut, Tasnim juga menyinggung pernyataan mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo. Pada masa pemerintahan pertama Presiden Donald Trump, Pompeo disebut pernah mengakui keberadaan agen intelijen Israel, Mossad, di tengah-tengah yang terjadi di Iran.
Pernyataan tersebut dinilai relevan dalam membaca kemungkinan keterlibatan aktor asing dalam eskalasi kekerasan yang terjadi saat ini. Media tersebut menilai adanya dugaan penyusupan agen lapangan asing di tengah masyarakat Iran. “Situasi ini menunjukkan adanya konfrontasi keamanan yang mencakup luas antara aparat Iran dan jaringan yang dikaitkan dengan kepentingan Israel,” tulis Tasnim.
Meski demikian, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sebagian individu yang terlibat di lapangan diperkirakan tidak sepenuhnya menyadari dimensi operasi yang lebih besar yang tengah berlangsung.