Harakatuna.com. Dinas Pendidikan Provinsi Jambi berkolaborasi dengan Densus 88 AT Polri menggelar sosialisasi penolakan terhadap paham IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme) di SMA dan SMK Yadika, Kota Jambi, Senin (13/4).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Densus 88, Sudiro, yang menekankan pentingnya kewaspadaan sejak dini, terutama pada kalangan pelajar yang dinilai rentan terpapar ideologi menyimpang. “Paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme bisa masuk ke siapa saja, termasuk pelajar. Oleh karena itu, penting memiliki pemahaman yang kuat agar tidak mudah terpengaruh,” ujar Sudiro.
Ia juga menegaskan bahwa lingkungan sekolah memiliki peran strategis dalam membentengi generasi muda dari pengaruh negatif. “Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan menjunjung nilai toleransi yang tinggi. Jika lingkungan kuat, paham-paham tersebut tidak akan mudah masuk,” tambahnya.
Sementara itu, Kasi GTK Bidang SMA Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Domrah, menegaskan komitmennya dalam mendukung kegiatan tersebut sebagai bagian dari penguatan karakter siswa. “Kami terus mendorong sekolah untuk aktif memberikan edukasi persahabatan, agar siswa tidak terpapar paham IRET,” kata Domrah.
Ia berharap sosialisasi ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa, tetapi juga mendorong mereka menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. “Harapannya, para siswa mampu menjaga nilai kebencian sekaligus berperan aktif dalam mencegah penyebaran paham radikalisme di sekitarnya,” tutupnya.