Harakatuna.com. Sydney — Pelaku yang menembak di Pantai Bondi, Australia, diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan terorisme ISIS. Badan Intelijen Keamanan Australia (ASIO) melaporkan pernah menyelidiki salah satu pelaku enam tahun lalu terkait intelijen dengan sel terorisme ISIS yang berbasis di Sydney.
Mengutip laporan ABC, ASIO sebelumnya memeriksa Naveed Akram (24) karena kedekatannya dengan kelompok ekstremis tersebut. Naveed bersama ayahnya, Sajid Akram (50), diduga melewatkan sedikitnya 15 orang dalam aksi penembakan saat acara Chanukah di Tepi Laut di Pantai Bondi, Minggu malam. Acara tersebut diadakan untuk memperingati hari pertama festival keagamaan Yahudi.
Dalam kejadian itu, Sajid Akram tewas tertembak setelah terlibat baku tembak dengan polisi. Sementara Naveed Akram mengalami luka-luka dan kini dirawat di rumah sakit di bawah pengawasan ketat aparat keamanan.
Pada malam yang sama, polisi bersenjata lengkap menggerebek rumah keluarga Akram di Bonnyrigg, wilayah barat daya Sydney, serta sebuah properti Airbnb di Campsie yang diketahui menjadi tempat mereka menginap. Penggeledahan dilakukan oleh Tim Kontra Terorisme Gabungan (Tim Gabungan Penanggulangan Terorisme/JCTT), yang melibatkan aparat negara bagian dan federal.
Seorang pejabat senior JCTT yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan, kedua pelaku diduga telah menyatakan kesetiaannya kepada kelompok teroris ISIS.
“Penyelidikan awal menunjukkan adanya afiliasi ideologis dengan ISIS,” ujarnya.
Pejabat tersebut juga mengungkapkan bahwa dua bendera ISIS ditemukan di dalam mobil pelaku di lokasi kejadian. Rekaman dari tempat kejadian bahkan menunjukkan satu bendera terpasang di kap mobil mereka.
Menurut sumber JCTT lainnya, ASIO mulai berdiskusi dengan Naveed Akram sejak 2019 setelah polisi menggagalkan rencana serangan teroris yang berkaitan dengan ISIS. Naveed sempat diperiksa karena memiliki hubungan dekat dengan sel terorisme, namun penyelidikan tersebut dihentikan setelah enam bulan.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese membenarkan hal tersebut.
“Naveed Akram pertama kali menarik perhatian ASIO pada Oktober 2019. Ia berada dalam penyelidikan selama enam bulan sebelum akhirnya dinilai tidak menimbulkan ancaman langsung,” kata Albanese.
Pejabat intelijen menyebut Naveed Akram memiliki kedekatan dengan seorang ekstremis bernama Matari, yang saat ini tengah menjalani hukuman tujuh tahun penjara karena merencanakan pemberontakan ISIS. Matari diketahui merupakan komandan sel ISIS yang beranggotakan sejumlah pria asal Sydney dan telah divonis atas pelanggaran terorisme.
Direktur Jenderal ASIO Mike Burgess pada Minggu juga mengkonfirmasi bahwa salah satu pelaku penembakan memang diketahui oleh lembaganya.
“Salah satu dari individu ini sudah kami kenal, namun bukan dalam konteks ancaman langsung. Oleh karena itu, kami perlu menyelidiki lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Burgess.
Sementara itu, laporan CBS News yang dikutip NDTV menyebutkan bahwa kedua pelaku diduga memiliki latar belakang asal Pakistan. Foto SIM Sajid Akram yang dikeluarkan oleh otoritas New South Wales juga beredar luas di media sosial. Dalam foto tersebut, Sajid tampak mengenakan kemeja hijau yang menyerupai jersey tim yang diubah menjadi Pakistan.
Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke menjelaskan bahwa Naveed Akram merupakan warga negara Australia kelahiran Australia. Adapun Sajid Akram tiba di Australia pada tahun 1998 menggunakan visa pelajar, yang kemudian diubah menjadi visa pasangan pada tahun 2001 sebelum akhirnya memperoleh status penduduk tetap.
Hingga kini, pihak masih berwenang melanjutkan penyelidikan untuk memastikan motif dan kemungkinan adanya jaringan pendukung lain dalam serangan mematikan tersebut.