Harakatuna.com. Damaskus — Aparat keamanan Suriah berhasil membubarkan satu sel kelompok teror ISIS dalam sebuah operasi penggerebekan di wilayah Daraya, pinggiran Damaskus, pada Minggu (21/12/2025). Operasi tersebut dilakukan setelah meningkatnya tekanan keamanan pasca serangan mematikan terhadap pasukan Amerika Serikat (AS) di Palmyra.
Dalam penggerebekan tersebut, aparat menyita sejumlah barang bukti berupa senjata api, amunisi, serta ribuan lembar uang tunai dalam mata uang Suriah dan dolar AS yang diduga akan digunakan untuk memuat aktivitas terorisme.
Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan operasi tersebut menyasar tempat persembunyian kelompok teroris ISIS setelah dilakukan penyelidikan dan pemantauan intensif selama beberapa pekan terakhir. “Unit-unit khusus pasukan keamanan internal Suriah, bersama Dinas Intelijen Umum, melaksanakan operasi keamanan yang terencana dengan baik di wilayah Daraya, yang bertujuan tempat persembunyian organisasi teroris ISIS,” demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri Suriah.
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa operasi dilakukan berdasarkan informasi intelijen yang akurat serta pemantauan keberlanjutan terhadap pergerakan kelompok tersebut. “Penggerebekan ini menghasilkan pembongkaran total sel teroris, di mana pemimpin kelompok tersebut beserta enam anggotanya berhasil ditangkap,” lanjut pernyataan itu.
Kementerian juga mengonfirmasi penyerahan sejumlah senjata dan amunisi yang diduga digunakan dalam aktivitas terorisme. Selain itu, uang tunai yang diamankan disebut tengah dipersiapkan untuk membiayai “kegiatan teroris”.
Operasi di Daraya merupakan bagian dari peningkatan operasi keamanan Suriah terhadap ISIS, yang diumumkan pemerintah setelah serangan terhadap pasukan AS di Palmyra pekan lalu. Dalam kejadian tersebut, dua tentara Angkatan Darat AS dan seorang penerjemah tewas, sementara tiga tentara lainnya mengalami luka-luka.
Sebagai balasan atas serangan itu, militer AS melancarkan serangan besar-besaran terhadap puluhan sasaran ISIS di Suriah pada Jumat lalu. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa serangan tersebut, yang diberi sandi Operasi Hawkeye Strike, menargetkan pejuang ISIS, infrastruktur, serta lokasi senjata.
“Ini bukan awal dari sebuah perang, ini adalah deklarasi pemenuhan,” ujar Hegseth.
“Hari ini, kami memburu dan membunuh musuh-musuh kami. Banyak sekali. Dan kami akan terus melakukannya,” tambahnya.
Presiden AS Donald Trump melalui media sosial menyebut bahwa pemerintah Suriah sepenuhnya mendukung serangan tersebut dan menegaskan bahwa Washington tengah melancarkan “balasan yang sangat serius”.
Dalam pidatonya di North Carolina pada Jumat malam, Trump juga menyebut serangan itu sebagai pukulan besar terhadap ISIS. “Kami menyerang para preman ISIS di Suriah, dan itu sangat sukses,” kata Trump, Merujuk pada respons AS atas serangan 13 Desember terhadap pasukan koalisi.
Menyusul operasi militer AS, Kementerian Luar Negeri Suriah menegaskan komitmen negaranya dalam memerangi ISIS. “Suriah berkomitmen untuk memastikan bahwa ISIS tidak memiliki tempat perlindungan yang aman di wilayah Suriah dan akan terus mengintensifkan operasi militer terhadap kelompok tersebut di mana pun mereka menimbulkan ancaman,” demikian pernyataan resmi.
Pemerintahan Suriah saat ini dipimpin oleh mantan kelompok pemberontak yang menyatukan Presiden Bashar al-Assad tahun lalu setelah konflik bersenjata selama 13 tahun. Pemerintahan baru tersebut mencakup beberapa cabang bekas Al Qaeda Suriah yang telah memisahkan diri dan sebelumnya keterlibatan bentrokan dengan ISIS.
Dalam perkembangan terkini, Suriah juga mencapai kerja sama dengan pimpinan AS dalam upaya memerangi ISIS. Kerja sama tersebut diperkuat melalui kesepakatan yang dicapai bulan lalu saat Presiden Suriah, Ahmad Al Shara, melakukan kunjungan ke Gedung Putih.