Harakatuna.com. Bogor – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan kunjungan resmi ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada Rabu (13/12) sebagai upaya membuka ruang kolaborasi baru di bidang pencegahan ekstremisme dan penguatan kapasitas mahasiswa. Rombongan dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Prof. Zuly Qodir, M.Ag., yang melakukan audiensi langsung dengan jajaran pimpinan BNPT.
Dalam pertemuan tersebut, Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen TNI Dr. Sigit Karyadi, SH, MH, menyambut baik inisiasi positif dari UMY. Ia menegaskan bahwa BNPT siap berkolaborasi melalui berbagai program yang dapat melibatkan mahasiswa.
“Kami memiliki kuota hingga 200 peserta magang yang dapat kami terima,” ujar Sigit.
“Mahasiswa bisa Ditempatkan di Divisi Kerja Sama Internasional maupun Psikologi, dan kami juga sangat membutuhkan mahasiswa Teknik Informatika untuk memperkuat tim IT,” sambungnya.
Sigit menjelaskan bahwa durasi magang dibuat fleksibel, mulai dari 1 hingga 1,5 bulan, dan dapat diperpanjang menjadi 3–4 bulan sesuai kebutuhan. BNPT juga memberikan fasilitas pendukung, termasuk makan siang dan mess bagi peserta magang, dengan syarat adanya surat rekomendasi resmi dari universitas.
Sebagai bentuk inklusivitas, BNPT menyediakan posisi khusus bagi peserta magang penyandang disabilitas. Mereka dapat ditempatkan di bagian kearsipan atau sebagai asisten direktur sesuai kemampuan masing-masing.
Selain membuka peluang magang, BNPT mengundang UMY untuk terlibat dalam Program Kampus Kebangsaan, yakni program penguatan resiliensi kampus untuk meningkatkan daya cegah, daya tangkal, dan daya lawan terhadap penyebaran paham radikal-terorisme di lingkungan perguruan tinggi.
Menanggapi kesepakatan tersebut, Prof. Zuly menyampaikan apresiasi sekaligus kesiapan UMY untuk membangun kerja sama jangka panjang. “Ini menjadi peluang penting bagi UMY karena sebelumnya belum ada kerja sama formal dengan BNPT. Kami sangat siap menjadi mitra strategis dalam berbagai program kebangsaan maupun persyarikatan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Zuly juga menawarkan Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) kepada staf BNPT yang berstatus PNS namun belum dapat mengkonversi ijazah S2 mereka. Melalui RPL, staf dapat mempersingkat masa studi tanpa harus mengulangi seluruh proses perkuliahan.
UMY juga mengusulkan skema Capstone Project, yaitu program kolaboratif bagi mahasiswa untuk mendukung penelitian atau proyek BNPT. “Output capstone project ini bisa berupa policy brief yang bermanfaat bagi BNPT dan sekaligus menjadi Tugas Akhir bagi mahasiswa kami,” kata Zuly, menegaskan komitmen UMY dalam memberikan kontribusi akademik terhadap upaya pencegahan terorisme.
Kunjungan ini diharapkan menjadi awal dari kerja sama strategis yang memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjaga wawasan kebangsaan sekaligus membuka peluang pengembangan kompetensi bagi mahasiswa UMY.