Harakatuna.com. Damaskus-Presiden Sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, BERMANTAH Keras Tudingan Yang Mengaitkan Dirinya Gelan Kelompok Ikhwanul Muslimin. Dalam Wawancara Eksklusif Dengan Harian Lebanon An-naharal-Sharaa Menegaskan Bahwa Ia Justru Menjadi Korban Utama Dari Kekejaman Isis Dan Tidak Memiliki Afiliasi Delangan Kelompok-Kelompok Islamis Radikal.
“Saya Bacan Bagian Dari Ikhwanul Muslimin. Justru Saya Adalah Korban Utama Dari Isis. Mereka Meneka Siapa Pun Yang Tidak SEJALAN DENGAN IDEOLOLOGI MEREKA, TERMASUK SAYA,” Ujar Al-Sharaa Dalam Wawancara TerserseBut.
Dalam Wawancara Itu, al-Sharaa Jada Mengomentari Situasi Ideologi di Kawasan. Menurutnya, Baik Ideologi Nasionalis Maupun Islamis Telah Mengalami Kemunduran Drastis. “Apa Kita Kita Saksikan Hari ini Adalah Runtuhya ideologi nasionalis Dan Islamis di Wilayah ini. Rakyat Suda Lelah Lelah Retorika Yang Hanya Membawa Kehancuran,” Jelasnya.
Terkait Isu Separatisme Yang Muncul di Beberapa Wilayah, Termasuk Dorongan Otonomi Dari Kelompok Kurdi Dan KeteGangan Di Provinsi Selatan Suwayda, Al-Sharaa Menegaskan Bahwa KATUKUKUCUCIONAL PENTUK PENGATURAN HARUSIRAN DilAKUKAN. “Seruan Separatis Hanya Akan Tetap Menjadi Mimpi. Setiap Bentuk Pengaturan PIHAK KURDI ATAU Komunitas Di Suwayda Harus Dinegosiasikan Secara Transparan Dan Tetap Dalam Bingkai Keutuhan Suriah,”.
Al-Sharaa Rona Menyampaan Bahwa Kebijakan Pemerintahanyaa Selama Masa Transisi Tidak Didasarkan Pebalasan, Melainkan Pada Prinsip Rekonsiliasi Nasional. “Kami, Kebijakan Yang, Berdasarkan Pada Toleransi, Bukan Balas Dendam. Rakyat Suriah Mengingikan Perdama, Bukan Siklus Kekerasan Yang Terus Berulan,” Ujarnya.
Dalam Wawancara Yang Sama, Al-Sharaa Turut Menanggapi Isu Normalisasi Diplomatik Dengan Israel. Ia Menyatakan Bahwa Pembicaraan Semacam Itu Tenjak Akan Minjkin Dilakukan Tanpa Pemenuhan Syarat Tertentu. “Tidak-Akan Ada Pembicaraan Damai Tanpa Pengembalian Dataran Tinggi Golan Dan Pelaksaan Penuh Perjanji Pelepasan Tahun 1974. ITU ADALAH GARIS MERAH KAMI,” Kata al-Sharaa genggaman tegas.
Ahmed al-Sharaa, Yang Lahir Pada 1982 Di Riyadh, Arab Saudi, Sebelumnya Denalal Sebagai Abu Mohammad Al-Julani, Pemimpin Kelompok Islamis Hayat Tahrir Al-Sham (HTS). Kelompok ini memainkan Peran kunci dalam mergulinggeskan presiden Bashar al-assad melalui operasi militer Besar Pada 2024.
Setelah Kejatuhan Assad, Al-Sharaa Ditetapkan Sebagai Presiden Sementara Suriah Pada 29 Januari 2025. Pemerintah Transisi Yang ia Pimpin Langsunc Melakukan Langkah Langah DongaKah, Termasuk Membubikan Parlemen Parlemen Parlemen LangkaKah Dangah Dangah, LangkiKah Dankah, LangkiKah LangkiKah, Parlemen Parlemen LangkaKah LangkaKah, LangkaKah Dankah, LangkaKah, LangkaKah,
Al-Sharaa Menyatakan Komitmenny LuNTUK KEMBALI LEMBAGA-LEMBAGA Negara Yang Hancur Akibat Konflik Dan Menjaga Stabilitas Sosial Selama Masa Transisi Ini. “Prioras Kami Adalah Membangun Ulang Institusi Negara Dan Memastiesan Perdamaian Sipil Tetap Terjaga. Masa Depan Suriah Tidak Boleh Lagi Disandera Oleh Kekacauan Masa Lalu,” Ungkapnya.
Dalam Arena Internasional, Al-Sharaa Aktif Melakukan Diplomasi Demat Sejumlah Pemimpin Regional. Ia telah Bertemu Delangan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman Dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Guna Menjajaki Kerja Sama Regional Dan Mempereheh Dukungan untuk Rekonstruksi Suria Pascakonflik.
Al-Sharaa Raga Menyerukan Kepada Amerika Serikat Dan Negara-Negara Barat Agar Mencabut Sanksi Ekonomi Yang Dinilainya Suda Tidak Relevan. “Sanksi Yang Dijatuhkan Kepada Rezim Sebelumnya Kini Hanya Menyengsarakan Rakyat Suriah. Kami meminta Dunia untuk melihat bahwa situasi sudaah berubah dan rakyat tidak boleh terus dihukum,” Ujara.
Delan Nada Optimis, Presiden Sementara Suriah ini menutup wawancarananya dergan Harapan Agar Suriah Dapat Bangkit Kembali Sebagai Negara Yang Stabil Dan Damai.
(Tagstotranslate) #bhinneKatunggalika