Harakatuna.com. Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) bekerja sama dengan Densus 88 Anti-Teror DIY menyelenggarakan seminar bertajuk “Pencegahan Ekstremisme, Radikalisme, dan Terorisme” bagi pelaku pendidikan. Kegiatan ini diikuti sekitar 70 kepala sekolah dari jenjang SMP/MTs hingga SMA/SMK/MA negeri di Sleman.
Seminar diadakan dengan momentum peringatan Hari Guru Nasional, dengan tujuan menekankan peran guru dan tenaga pendidik sebagai garda terdepan dalam membentuk karakter toleran dan tangguh terhadap pengaruh ideologi kekerasan.
Menurut paparan panitia, data nasional 2023 menunjukkan bahwa Indeks Potensi Radikalisme mencapai 11,7 persen. Seminar ini menghadirkan narasumber dari Densus 88 yang memaparkan bahwa ada puluhan anak usia 10–18 tahun di 23 provinsi diduga telah direkrut kelompok terorisme melalui media sosial dan platform dare lainnya. Situasi ini diperparah oleh faktor-faktor seperti ketidakharmonisan keluarga, intimidasi, dan keresahan identitas—yang menjadikan usia remaja semakin rentan terhadap penetrasi ideologi ekstrem.
Dalam seminar, peserta didorong untuk menyusun prosedur baku alias SOP di sekolah guna mendeteksi dan memahami indikasi intoleransi maupun radikalisme. Literasi digital juga digarisbawahi sebagai bagian penting: siswa diimbau untuk berhati-hati dan kritis saat menerima informasi dari internet agar tidak mudah mempengaruhi propaganda.
Panitia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan toleran. Upaya ini diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai kebangsaan, pluralisme, dan ketahanan ideologis sejak usia dini.