Harakatuna.com. New York – PBB kembali diperingatkan Israel atas serangan udara terbaru yang dilancarkannya ke wilayah Lebanon selatan. PBB menilai serangan berulang tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan dalam pernyataan yang dikutip, Sabtu (6/12) pasukan penjaga perdamaian dari United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) mengamati serangkaian serangan udara Israel di wilayah operasi mereka di Lebanon selatan.
Serangan itu terjadi di tengah operasi Angkatan Bersenjata Lebanon yang sedang berupaya mengendalikan senjata dan infrastruktur ilegal di wilayah tersebut. “Ini merupakan pelanggaran yang jelas terhadap Resolusi 1701,” ujar Dujarric dalam konferensi pers.
Ia juga meminta militer Israel untuk menggunakan mekanisme koordinasi dan komunikasi yang tersedia untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Pada Kamis (4/12) lalu, enam orang yang mengendarai tiga sepeda motor mendekati pasukan penjaga perdamaian PBB di dekat wilayah Bint Jbeil.
Salah satu dari mereka menembakkan sekitar tiga peluru ke bagian belakang kendaraan PBB. Dujarric menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan perdamaian tidak dapat diterima dan merupakan pelanggaran serius terhadap Resolusi 1701.
Resolusi 1701 menandakan permusuhan antara Hizbullah dan Israel, serta pembentukan zona bebas senjata di antara Sungai Litani dan garis batas Blue Line yang dipetakan PBB sebagai pemisah antara Lebanon, Israel, dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Dujarric juga mengingatkan otoritas Lebanon atas kewajiban mereka untuk menjamin keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian, serta menuntut penyelidikan penuh dan segera membawa para pelaku ke hadapan hukum.
Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon dicapai pada tahun lalu setelah lebih dari setahun serangan melintasi batas yang terjadi seiring dengan perang di Jalur Gaza. Dalam periode tersebut, lebih dari 4.000 orang tewas dan 17.000 lainnya luka-luka.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada November 2024, sedikitnya 335 orang tewas dan 973 lainnya terluka dalam 1.038 serangan Israel, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon. Sesuai kesepakatan gencatan senjata, tentara Israel seharusnya menarik diri sepenuhnya dari Lebanon selatan pada Januari 2025. Namun hingga kini, penarikan tersebut baru dilakukan sebagian, dan Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di lima pos perbatasan.