Harakatuna.com. Jakarta – Peran negara-negara kekuatan menengah (middle power) dinilai semakin penting dalam menjaga stabilitas global di tengah semakin mengancam geopolitik dunia. Pandangan ini disampaikan Shyam Saran dalam ajang Middle Powers Conference 2026 yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Menurut Saran, hubungan antarnegara besar saat ini semakin tidak stabil dan sulit diprediksi. Dalam situasi seperti ini, negara-negara dengan kekuatan menengah justru memiliki peluang lebih besar untuk berperan sebagai penyeimbang dalam dinamika global.
Ia mencontohkan hubungan India dengan Amerika Serikat yang masih tercemar di tingkat politik. Meski demikian, kerja sama teknis di berbagai sektor seperti perlindungan, teknologi, dan pencegahan terorisme tetap berjalan.
Saran menilai kondisi tersebut mencerminkan perubahan lanskap global, di mana stabilitas dunia tidak lagi hanya ditentukan oleh negara-negara besar, tetapi juga oleh kemampuan negara menengah dalam menjaga kesinambungan kerja sama. Di tengah tekanan ekonomi global, termasuk kebijakan tarif dan gangguan rantai pasok, kekuatan menengah negara-negara dinilai lebih fleksibel dalam menjaga kepentingan nasional sekaligus berkontribusi terhadap stabilitas internasional.
Selain itu, perkembangan di kawasan seperti Afghanistan menunjukkan bahwa pendekatan pragmatis negara-negara menengah dapat membantu meredakan konflik dan menjaga hubungan regional tetap stabil.
Para pembicara dalam forum tersebut sepakat bahwa kekuatan menengah negara-negara akan semakin penting ke depan, terutama dalam membangun aliansi lintas kawasan, menjaga jalur komunikasi, serta mendorong solusi damai di tengah persaingan kekuatan besar dunia.