Harakatuna.com. Samarinda – Momen penuh haru terjadi di Kota Samarinda ketika tiga mantan kakek moyang terorisme (napiter) menyatakan ikrar setia kembali kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peristiwa tersebut berlangsung pada Jumat siang (22/3) di wilayah Karang Asam, Samarinda.
Ketiga eks napiter tersebut masing-masing berinisial FP alias Abu Zee, LA alias Abu Mujahidin, dan MZ alias Abu Arkam. Mereka sebelumnya diketahui pernah terafiliasi dengan paham radikalisme, namun kini menyatakan tekad untuk kembali menjadi warga negara yang setia kepada NKRI.
Di hadapan Kapolresta Samarinda, Ary Fadli, ketiganya secara terbuka menyampaikan komitmen untuk meninggalkan paham radikal dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Kapolresta Samarinda menjelaskan bahwa ikrar tersebut merupakan bentuk kesungguhan para mantan napiter untuk kembali menjalani kehidupan sebagai warga negara yang taat hukum dan mencintai tanah air.
“Mereka menyatakan secara langsung ikrar kesetiaan kepada NKRI, mengakui kedaulatan negara, serta menerima ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara,” ujar Ary Fadli.
Ikrar kesetiaan tersebut juga disaksikan oleh sejumlah pejabat dan unsur aparat keamanan, di antaranya Kasatgaswil Kaltim Densus 88, Dasuki Herlambang, Dandim 0901/Samarinda, Yusub Dody Sandra, serta Danyon B Pelopor Sat Brimob Polda Kaltim, Edy Musdwiyono, bersama jajaran pejabat utama Polresta Samarinda.
Sebagai simbol kesetiaan kepada NKRI, ketiga mantan napiter tersebut juga mencium bendera Merah Putih di hadapan para pejabat yang hadir. Ary Fadli menjelaskan bahwa dalam isi ikrar tersebut, yang ketiga berjanji untuk tidak kembali bergabung dengan kelompok radikal yang dapat mengancam persatuan bangsa.
“Dalam ikrar itu mereka juga berjanji tidak akan kembali bergabung dengan kelompok radikal yang bertujuan memecah belah NKRI serta bersedia membantu Polri dan instansi terkait dalam upaya mencegah dan menangkal penyebaran paham radikalisme dan terorisme,” jelasnya.
Selain itu, para mantan napiter tersebut juga menyatakan kesiapan untuk mendukung terciptanya situasi yang aman dan nyaman di tengah masyarakat, termasuk dalam menjaga keamanan selama pelaksanaan pesta demokrasi di Indonesia.
Menurut Ary Fadli, langkah tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi mantan napiter lainnya agar berani kembali ke pangkuan NKRI dan meninggalkan paham radikal.
“Kami berharap ini bisa menjadi contoh bagi mantan napiter lainnya untuk kembali berikrar setia kepada NKRI, sehingga bersama-sama kita dapat mewujudkan situasi yang aman dan kondusif di Indonesia, khususnya di Samarinda,” tutupnya.