Harakatuna.com. Samarinda — Direktur Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris, mengingatkan para imam masjid agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham ekstrem yang berpotensi mengganggu persatuan umat dan keutuhan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan dalam seminar Bridging Konferensi Imam Internasional bertajuk Masjid Harmoni: Diplomasi Agama dan Perdamaian yang digelar di Islamic Center Samarinda, Sabtu (25/6/2026).
Irfan menegaskan, masjid memiliki peran strategis sebagai pusat pembinaan umat sehingga harus terlindungi dari pengaruh ideologi yang menyimpang. Ia meminta para imam untuk tidak lengah terhadap potensi infiltrasi paham radikal. “Saya hanya menyampaikan fakta agar kita tidak lengah menjaga negara. Amankan masjid kita. Ada kelompok ekstrem yang harus kita waspadai,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu ciri paham ekstrem terlihat dari sikap berlebihan dalam beragama serta kecenderungan merasa paling benar. Kelompok tersebut kerap mengklaim kebenaran tunggal dan mudah menghakimi pihak lain. Menurutnya, pola pikir seperti itu berbahaya karena dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat yang majemuk. Bahkan, dalam sejumlah kasus, pemahaman tersebut dapat berkembang menjadi aksi kebencian.
Selain itu, Irfan mengungkap adanya temuan keterlibatan oknum tertentu dalam pendanaan terorisme. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013 dan berpotensi dikenakan sanksi pidana. Ia juga menyebut kelompok teroris global seperti ISIS dan Al-Qaeda masih menjadikan Indonesia sebagai sasarannya. Kondisi masyarakat yang beragam kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan ideologi radikal.
Lebih lanjut, Irfan menjelaskan bahwa faktor pemicu seseorang terpapar paham ekstrem antara lain rasa ketidakadilan, kekecewaan sosial, hingga perasaan terpinggirkan. Kelompok radikal, kata dia, sering menyasar generasi muda karena dinilai memiliki semangat tinggi namun rentan terpengaruh. “Tidak ada ciri-cirinya. Mereka rajin beribadah menjalankan sunah rasul. Namun ini bukan ciri teroris, kebetulan mereka berpakaian seperti itu,” katanya.
Ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendeteksi perubahan dini perilaku, terutama pada anak yang mulai menarik diri dari lingkungan sosial. Selain itu, para imam juga diminta memperkuat fungsi masjid sebagai benteng pencegahan radikalisme. “Jangan sampai terjadi. Kita harus waspadai negeri kita, negeri yang aman,” tutupnya.