Harakatuna.com. Jakarta – Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) melalui Ketua Umum, AR Waluyo Wasis Nugroho atau yang akrab disapa Gus Wal, menegaskan bahwa momentum hari besar keagamaan dan tradisi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai perayaan seremonial tahunan semata.
Dalam keterangan tertulis yang diterima PenaBICARA pada Minggu (5/4/2026), Gus Wal menyampaikan bahwa perayaan hari raya keagamaan seperti Idulfitri, Nyepi, dan Paskah sejatinya memiliki makna mendalam sebagai momentum untuk kembali pada kesucian dan memperkuat persaudaraan antarsesama.
“Hari Raya Idulfitri di bulan Syawal bagi umat Islam dan Paskah bagi umat Kristiani merupakan titik kembali pada kesucian. Sementara ucapan saling menghargai menjadi ruang sosial yang memperkuat persaudaraan, toleransi, dan persatuan bangsa Indonesia di tengah berbagai perbedaan,” ujar Gus Wal.
Menurutnya, rangkaian perayaan keagamaan yang berlangsung hampir berdekatan pada tahun ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mampu menjaga keharmonisan dalam keberagaman.
Ia menilai perayaan Nyepi, Idulfitri, dan Paskah tidak hanya berkaitan dengan kegiatan keagamaan semata, tetapi juga memiliki makna sosial yang lebih luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Ini juga tentang bagaimana umat Islam, umat Hindu, umat Kristiani, dan pemeluk agama lain di Indonesia mampu membersihkan hati dari kebencian, dendam, serta perpecahan yang dapat merusak persatuan nasional,” ujarnya.
Gus Wal juga menyoroti tradisi halal bihalal yang telah lama berkembang dalam budaya masyarakat Indonesia, khususnya pada bulan Syawal setelah Idulfitri. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi bukti bahwa Islam di Indonesia sangat menekankan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan keharmonisan sosial.
Ia menegaskan bahwa tradisi silaturahmi tersebut merupakan warisan budaya yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia.
“Tradisi ini mampu mempertemukan berbagai golongan lintas agama, budaya, dan latar belakang sosial dalam satu semangat persaudaraan. Dalam konteks persahabatan, halal bihalal tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan, tetapi juga menjadi sarana membangun rekonsiliasi sosial dan memperkuat komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.
PNIB memandang bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam hari raya keagamaan harus dijadikan sebagai energi moral bagi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat semangat toleransi dan kebhinekaan.
Di tengah berbagai tantangan global seperti radikalisme, intoleransi, terorisme, politik identitas, hingga polarisasi sosial, Gus Wal menilai semangat kembali kepada kesucian dan saling memaafkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
“Di tengah tantangan global seperti radikalisme, intoleransi, terorisme, politik identitas, serta polarisasi sosial, semangat kembali suci dan saling memaafkan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata untuk menjaga kerukunan dan persatuan Indonesia,” lanjutnya.
Di akhir pernyataannya, Gus Wal mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk terus mempererat silaturahmi dan menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman.
“Dengan semangat Paskah dan Syawal, diharapkan seluruh anak bangsa mampu menempatkan persatuan di atas kelompok kepentingan, serta menjaga Indonesia menjadi rumah bersama yang damai dan harmonis tanpa adanya intoleransi, khilafah, radikalisme, dan pemikiran yang harus kita lawan bersama,” tutupnya.