Harakatuna.com. Jakarta – Upaya menjaga persatuan bangsa Indonesia tidak hanya bertumpu pada pendekatan keamanan, tetapi juga memerlukan penyembuhan luka sosial akibat ketidakadilan melalui penguatan empati dan solidaritas. Dalam konteks ini, penguatan moderasi beragam dinilai perlu dibangun melalui sinergi tiga pilar utama, yakni keluarga, pesantren, dan komunitas.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi Bedah Buku Merawat Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PR AK), Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo BRIN, Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (5/2).
Diskusi ini menghadirkan sejumlah peneliti dan akademisi untuk mempelajari pemahaman mengenai praktik moderasi beragam di tingkat keluarga, lembaga pendidikan keagamaan, hingga komunitas lokal. Para narasumber memaparkan temuan penelitian serta pengalaman empiris tentang tantangan dan strategi merawat keharmonisan sosial di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Peneliti PR AK BRIN, Ismail, menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam penguatan moderasi beragama dan tidak dapat digeneralisasikan sebagai sumber radikalisme. Menurutnya, otoritas kiai, tradisi keilmuan yang kuat, serta ikatan sosial yang erat membuat pesantren relatif memiliki daya tahan terhadap infiltrasi paham ekstrem.
“Pesantren memiliki peran strategi dalam penguatan moderasi beragama dan tidak dapat distereotipkan sebagai sumber radikalisme,” kata Ismail.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan baru berupa paparan konten keagamaan digital yang belum tersaring, khususnya bagi santri usia muda. Oleh karena itu, ia mendorong penguatan literasi digital, pendampingan santri, serta dukungan pemerintah yang lebih merata, terutama bagi pesantren kecil. “Pesantren adalah aset penting bangsa dalam menjaga keharmonisan sosial dan merawat persatuan Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, peneliti PR AK BRIN lainnya, Daniel Rabitha, menekankan pentingnya peran aktor lokal, seperti panitia rumah ibadah dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dalam menjaga kerukunan beragam umata. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Provinsi Banten, ia menyebut aktor-aktor lokal tersebut berperan melalui diplomasi sosial dan pemahaman terhadap konteks setempat.
Menurut Daniel, strategi menjaga kerukunan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui penguatan regulasi, pelatihan berbasis riset, serta keterlibatan aktif pemerintah sebagai fasilitator. “Keberlanjutan kerukunan sosial sangat bergantung pada kebijakan yang sensitif terhadap dinamika lokal,” katanya.
Pandangan serupa yang disampaikan peneliti PR AK BRIN, Novi Dwi Nugroho, yang menyoroti pentingnya dialog dan kearifan lokal dalam merawat keharmonisan keberagaman, khususnya di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Berdasarkan penelitian lapangan pada tahun 2021, ia menegaskan bahwa keberagaman tidak secara otomatis melahirkan harmoni tanpa pengelolaan yang sadar dan berkelanjutan.
Ia mencontohkan nilai-nilai lokal Sunda seperti entahlah (rama), silih asih (saling mencintai), silih asah (saling belajar), dan silih asuh (saling menjaga) sebagai modal sosial efektif dalam membangun toleransi dan dialog lintas kelompok. FKUB Kabupaten Ciamis dinilai strateginya sebagai mediator, fasilitator dialog, sekaligus penggerak literasi digital untuk menangkal disinformasi dan potensi radikalisasi.
Pakar moderasi umat beragama Universitas Indonesia, Muhammad Adlin Sila, menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan modal sosial penting bagi bangsa Indonesia. Ia membedakan antara radikalisme sebagai upaya kembali ke akar ajaran agama secara sungguh-sungguh dan ekstremisme yang diwujudkan melalui praktik beragama secara berlebihan hingga membahayakan kehidupan sosial.
Adlin juga menyoroti pengalaman deradikalisasi melalui pendekatan kemanusiaan, pendidikan, dan dukungan komunitas, seperti yang dialami Ali Fauzi, mantan anggota jaringan teroris. Menurutnya, moderasi beragam perlu dipahami dalam konteks global karena dinamika internasional turut mempengaruhi munculnya radikalisme di tingkat lokal.
Melalui buku Merawat Indonesiapara penulis berharap membangunkan pemahaman yang lebih kuat tentang pentingnya menjaga keberagaman, merawat keharmonisan sosial, dan memperkuat literasi komunitas. “Merawat Indonesia melalui moderasi beragama adalah pekerjaan berkelanjutan. Ini bukan hanya teori, melainkan praktik nyata dalam membangun harmoni sosial,” tutup Adlin.