Harakatuna.com. Havana – Pemerintah Kuba menyatakan telah menggagalkan dugaan upaya infiltrasi bersenjata yang dikategorikan sebagai aksi terorisme setelah terjadi baku tembak antara pasukan keamanan dan sebuah kapal cepat berpelat Florida di lepas pantai utara negara itu, Rabu waktu setempat.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengecam kejadian tersebut sebagai percobaan “infiltrasi” yang mengancam kelangsungan negara. Ia menegaskan bahwa pemerintahnya tidak akan mentoleransi tindakan yang dinilai sebagai agresi teroris. “Kuba akan membela diri dengan tekad dan ketegasan terhadap setiap agresi teroris dan bayaran tentara yang menyerang privasi serta stabilitas nasional kami,” tegas Díaz-Canel.
Kementerian Dalam Negeri Kuba menyebut pasukan patroli perbatasan merespons setelah kapal cepat yang terdaftar di Florida itu melepaskan tembakan ke arah aparat Kuba yang berusaha melakukan pemeriksaan di perairan teritorial. Dalam baku tembak tersebut, empat orang yang berada di kapal tewas dan enam lainnya mengalami luka-luka.
Seluruh penumpang kapal disebut sebagai warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat. Para penyelidik langsung menahan dan kini berpura-pura hendak melakukan penyusupan dengan tujuan terorisme. “Para tersangka bermaksud melakukan infiltrasi untuk tujuan teroris. Dari kapal tersebut disita senapan serbu, pistol, bom molotov, serta perlengkapan bergaya militer lainnya,” demikian pernyataan resmi kementerian.
Otoritas Kuba juga merilis nama tujuh orang yang berada di kapal dan menyebut sebagian besar dari 10 penumpang memiliki catatan aktivitas kriminal dan kekerasan di Kuba. Selain itu, seorang pria lain yang disebut dikirim dari Amerika Serikat untuk terlibat dalam operasi tersebut telah ditangkap di daratan Kuba dan mengakui keterlibatannya.
Pemerintah Kuba selama ini sering melaporkan adanya penyusupan kapal cepat dari Amerika Serikat ke wilayah perairannya. Namun, bentrokan yang berakhir dengan korban jiwa tergolong jarang terjadi. Insiden semacam itu sering dikaitkan dengan penyelundupan manusia, perdagangan narkotika, hingga serangan pasukan terhadap aparat perbatasan.
Di Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak terlibat dalam kejadian tersebut. Ia menyatakan akan melakukan penyelidikan sebelum mengambil langkah lanjutan. “Kami tidak terlibat dalam kejadian ini. Kami akan menyelidiki fakta-faktanya dan akan merespons sesuai hasil penyelidikan,” kata Rubio.
Jaksa Agung Negara Bagian Florida juga memerintahkan penyelidikan atas kejadian tersebut, mengingat lokasi Florida yang berjarak sekitar 160 kilometer dari Kuba melintasi Selat Florida.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan ekonomi terhadap Kuba. Pemerintah komunis negara itu menghadapi tantangan berat setelah kehilangan dukungan pasokan energi utama dari Venezuela, menyusul perubahan situasi politik di negara tersebut. Kondisi itu mengirimkan situasi ekonomi domestik yang telah ditekankan akibat sanksi Amerika Serikat.
Bagi pemerintah Kuba, peristiwa ini tidak hanya melanggar wilayah, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas nasional yang dianggap sebagai tindakan toleransi lintas batas. Sementara itu, pihak Amerika Serikat menegaskan perlunya klarifikasi menyeluruh sebelum menyimpulkan motif maupun karakter kejadian tersebut.