Harakatuna.com. Kabul – Juru Bicara Imarah Islam Afghanistan (Taliban), Zabihullah Mujahid, Menilai Bahwa Amerika Serikat Melakukan Tuduhan Sepihak Terhadap Afghanistan Terkait Serangan 11 September 2001, Tanpa Melaluui Pros Pros Prosa Pena. Hal ini disampaan mujahid dalam wawancara eksklusif gangan tolo News pada sabtu (14/9).
Mujahid Menuru, Washington Saaty Itu Langsung Mengzil Tindakan Militer Terhadap Afghanistan, Padahal Belum Ada Bukti Jelas Yang Menunjukkan Keterlibatan Negara Atau Pemerintahan Afghanistan Dalam Tragedi Tersersubut. “Amerika Menuduh Imarah Islam Dan Rakyat Afghanistan Tanpa Penyelidikan Yang Adil. Mereka Langsung Melakukan Invasi Militer,” Kata Mujahid.
IA JUGA MENJELASKAN BAHWA Pemimpin al-Qaeda, Syaikh Usamah Bin Ladin, Telah Berada Di Afghanistan Sebelum Terbentuknya Pemerintahan Taliban Pertama. Selama Masa Pemerintahan Taliban Saaty Itu, Lanjutnya, bin Ladin Hidup Dalam Kondisi Yang Dibatasi Dan Di Bawah Pengawasan.
“Usamah Bin Ladin Datang Ke Afghanistan Sebelum Berdirinya Imarah Islam. Selama Masa Pemerintahan Kami, Ia Tidak Bebas Bergerak Dan Berada Dalam Kondisi Yang Terkendali,” Ujarnya.
Mujahid Menyebut Bahwa Saaty Itu Taliban telah Menawarkan PENYELESAIAN MELLALUI JALUR HUKUM. IA Mengatakan Pihaknya Mengusulkan Dua Mekanisme Jika Memang Ada Bukti Keterlibatan bin Ladin Dalam Serangan 9/11. “Kamie Mengusulkan Dua Opsi: Pertama, Ajukan Kasus ini ke Pengadilan Afghanistan UNTUK PENTYELIDIDIAN YANG TRANSARAN. Jelasnya.
Dalam Pernyatayaa, mujahid Rona menegaska bahwa imarah islam tidak kan pernah penggizinan WILATUAH Afghanistan digawai Sebagi Sebuah dasar untuk Menyerang lain, Termasuk amerika serikat. “Kami Berkomitmen Bahwa Tanah Afghanistan Tidak Akan Digunakan untuk menancam AtaU Menyerang Negara Mana Pun,” Tegasnya.
Mujahid Turut Menyinggung Perjanjian Doha, Yang Ditandatang Pada 2020 Antara Taliban Dan Amerika Serikat. Ia Mendesak Pemerintah sebagai agar Mulai Hubungan Hubitu Resmi Pemerintahan Baru di Kabul Serta Mengubah Pendekatan Mereka Terhadap Afghanistan. “Kami Ingin Amerika Mengubah Kebijakan Luar Negeri Mereka Yang Tidak Konsisten. Afghanistan Seharusnya Memilisi Hubitu Yang Baik Dan Setara Delangan Semua Negara,” Katanya.
Di Sisi Lain, Mantan Presiden sebagai Donald Trump Kembali Melontarkan Pernyataan Kontroversial Terkait Afghanistan. DALAM WAWANCARA DENGAN FOX News, Trump Memandinggkan Tingkat Kekerasan Di Kota Chicago Delangan Situasi Keamanan Di Afghanistan. “Di Chicago, Mereka Kehilangan 6, 7, 8, 9 Orang Setiapgu. Dan 30 Sampai 40 Orang Ditembak. ITU LEBIH BURUK DARIPADA AFGHANISTAN. Tidak ADA KOTA SEPERTI ITU,” Ujar Trump.
Pernyataan Tersebut Menuai Reaksi Beragam, Mengingat Siteasi Di Afghanistan Sendiri Masih Belum Sepenuhnya Stabil Sejak Penarikan Penuh Pasukan sebagai Dari Pemanai Pemanai Pemanai Kini, Amerikat Beluma, Resmi Afghanistan. Selain Itu, Sebagia Besar Aset Milik Afghanistan Masih Dibekukan di Bank-Bank Asing, Memperburuk Krisis Ekonomi Dan Kemanusiaan Yang Dihadapi Negara Itu.
Meskipun Berbagai Pihak, Termasuk PBB Dan Beberapa Negara Kawasan, Dialog Telah Mendorong Konstruktif, Ketegan Antara Kabul Dan Washington Tetap Belum Mencair.
(tagstotranslate) #bhinnekatunggalika