Harakatuna.com. Teheran — Media Iran melaporkan sekitar 1,8 juta migran Afghanistan telah kembali ke negaranya sepanjang tahun ini melalui perbatasan Islam Qala. Gelombang kepulangan tersebut disebut sebagai salah satu repatriasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Kantor Berita Tasnim (TNA), mengutip Gubernur Provinsi Khorasan Razavi, melaporkan bahwa sebagian besar deportasi terjadi dari wilayah provinsi tersebut, sementara sisanya berasal dari 11 provinsi lain di seluruh Iran. Pernyataan itu disampaikan pada Senin (8/12/2025).
“Sebagian besar proses permulaan berlangsung melalui Provinsi Khorasan Razavi, sementara migran lainnya dideportasi dari berbagai provinsi lain di Iran,” ujar Gubernur Khorasan Razavi sebagaimana dikutip TNA.
Media Afghanistan menilai arus masuk ini sebagai kepulangan massal migran Afghanistan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut mencerminkan skala signifikan dari tren migrasi yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
Menurut para pejabat Iran, meningkatnya angka kepulangan migran Afghanistan tidak terlepas dari dinamika dan ketegangan regional. Salah satu faktor yang termasuk berpengaruh adalah perkembangan situasi keamanan, termasuk aksi militer Israel baru-baru ini, yang dinilai berdampak pada pergerakan migran Afghanistan di Iran.
“Perkembangan situasi regional turut mempengaruhi arus migrasi dan keputusan pemulangan migran Afghanistan,” kata seorang pejabat Iran yang dikutip media setempat.
Meski proses repatriasi masih terus berlangsung, laporan terbaru menunjukkan bahwa jumlah kepulangan harian saat ini mulai melambat jika dibandingkan dengan puncaknya pada bulan-bulan musim panas lalu.
Para pemerhati dan lembaga kemanusiaan mengingatkan bahwa deportasi yang terus berlanjut berpotensi menimbulkan tantangan serius, terutama di perbatasan wilayah. Beban pada fasilitas pendapatan, keterbatasan layanan dasar, serta akses terhadap kebutuhan pokok bagi para migran yang kembali menjadi perhatian utama.
“Kepulangan dalam jumlah besar berisiko menimbulkan masalah kemanusiaan jika tidak diiringi dengan kesiapan fasilitas dan dukungan layanan yang memadai,” ujar seorang pemerhati migrasi.
Hingga kini, otoritas Iran dan Afganistan masih terus memadukan perkembangan situasi di perbatasan seiring terusnya arus kepulangan migran Afganistan ke negara asalnya.