Harakatuna.com. Sanggau – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sanggau menyoroti meningkatnya penyebaran paham intoleransi di ruang digital yang dinilai berpotensi memicu radikalisme, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja.
Ketua FKUB Kabupaten Sanggau, Suyono Asun, mengatakan perkembangan teknologi dan media sosial saat ini membuat generasi muda semakin rentan terpapar konten provokatif, kebencian, hingga narasi intoleransi yang dapat berujung pada sikap ekstrem.
“Hindarilah sikap-sikap yang merasa paling benar sehingga meremehkan teman-teman yang berbeda pendapat maupun berbeda keyakinan. Sikap intoleran seperti ini jangan sampai berkembang menjadi perilaku radikal, terutama di kalangan anak muda,” ujar Suyono Asun dalam Dialog RRI Sanggau Menyapa, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang paling mudah terpengaruh karena intensitas penggunaan media digital yang tinggi. Kondisi tersebut diperparah dengan maraknya penyebaran informasi palsu dan propaganda di media sosial yang kerap dikemas secara menarik sehingga mudah diterima generasi muda.
Ia menegaskan, paparan intoleransi yang terus dibiarkan dapat mempengaruhi cara pandang anak terhadap keberagaman dan memicu munculnya fanatisme berlebihan. “Kemajuan teknologi membuat berbagai hal negatif sangat mudah masuk dan mempengaruhi masyarakat, termasuk remaja. Konten-konten informasi provokatif sering muncul dan harus disaring agar anak-anak tidak mudah termakan informasi yang salah,” katanya.
FKUB Sanggau, lanjut Suyono, terus melakukan langkah pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat agar penyebaran paham intoleransi di media sosial dapat diminimalkan sebelum berkembang menjadi radikalisme.
“Kami dari FKUB berupaya mengimbau dan mencegah agar paham intoleransi yang disebarkan melalui media sosial bisa diminimalkan. Kami juga berupaya agar isu-isu seperti ini tidak berkembang menjadi persoalan yang merusak kerukunan umat beragama di Kabupaten Sanggau,” ujarnya.
Suyono menilai peran keluarga dan dunia pendidikan menjadi faktor paling penting dalam mencegah radikalisasi anak. Menurutnya, pelatihan karakter dan penanaman nilai toleransi sejak dini dapat menjadi benteng utama agar generasi muda tidak mudah mempengaruhi ajaran ekstrem.
“Yang menjadi tantangan saat ini adalah sebagian anak muda memiliki fanatisme dan ego yang tinggi. Dalam beberapa hal mereka tidak mau kalah dan ingin menang sendiri. Oleh karena itu, toleransi pendidikan harus diperkuat sejak awal,” ungkapnya.
Ia juga mengajak para orang tua untuk lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak, termasuk penggunaan media sosial dan lingkungan pergaulan di internet. Pendampingan tersebut dinilai penting agar anak tidak terpapar konten yang mengarah pada kebencian maupun radikalisme.
Suyono berharap seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, tokoh agama, hingga pemerintah daerah, dapat bersama-sama menjaga harmonisasi sosial dan memperkuat nilai toleransi di tengah keberagaman masyarakat Sanggau.
“Upaya bersama menjadi kunci utama agar situasi di Kabupaten Sanggau tetap aman, damai, dan tenteram, sekaligus melindungi generasi muda dari pengaruh radikalisme,” tutupnya.