Harakatuna.com. Jakarta – Perkembangan transformasi digital yang semakin masif serta kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Kecerdasan Buatan (AI) menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan serius bagi kehidupan manusia. Di satu sisi, AI mampu meningkatkan efisiensi di berbagai sektor. Namun di sisi lain, teknologi ini juga membuka ruang bagi cakupan, mulai dari penyebaran konten palsu dalamdisinformasi, hingga serangan siber yang semakin kompleks dan berpotensi mengganggu stabilitas negara.
Merespons tantangan tersebut, Universitas Jayabaya bekerja sama dengan Penerimaan Internasional Indonesia mengadakan diskusi publik bertajuk “Komunikasi Digital dan Etika AI: Tantangan Menghadapi Ancaman Siber”. Kegiatan berlangsung di Ruang Seminar I Gedung Rektorat Universitas Jayabaya, Rabu (10/6/2026).
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Irjen Pol. Alexander Sabar, SIK, M.Si., yang hadir sebagai pembicara utama, menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan perkembangan zaman dan tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini. “Tema ini sangat relevan dengan realitas yang kita hadapi. Isu ini bukan sekadar topik akademik, tetapi telah menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari negara dalam menjaga ruang digital Indonesia,” ujar Alexander.
Ia menjelaskan bahwa telah terjadi perubahan besar dalam pola interaksi masyarakat. Jika pada abad ke-20 ruang publik utama berada di ruang fisik seperti alun-alun dan tempat pertemuan, maka pada abad ke-21 ruang publik terbesar masyarakat telah berpindah ke ruang digital.
Menurut Alexander, perubahan tersebut membawa konsekuensi baru terhadap tata kelola keamanan dan etika penggunaan teknologi. Meski AI dikembangkan untuk membantu berbagai sektor kehidupan, ia mengingatkan bahwa teknologi tersebut juga sering dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindak kejahatan digital.
Oleh karena itu, Alexander menekankan pentingnya menjaga keseimbangan tiga fondasi utama dalam pengelolaan ruang digital, yakni People (manusia), Process (proses), dan Technology (teknologi). “Insiden keamanan siber sering kali bukan terjadi karena lemahnya teknologi, melainkan karena faktor manusia. Teknologi hanyalah alat, sedangkan efektivitasnya sangat ditentukan oleh manusia dan tata kelola yang diterapkan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi di ruang digital. “Kita harus membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum melakukan amplifikasi informasi,” tambahnya.
Pandangan tersebut juga diperkuat oleh Dewan Eksekutif Penerimaan Internasional Indonesia, Misriyah, yang dalam berbagai tekanan pentingnya membangun kesadaran masyarakat terhadap etika komunikasi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Diskusi ini diharapkan menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan literasi digital bagi masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab di tengah meningkatkan tantangan keamanan siber.