Harakatuna.com. Poso — Sejumlah mantan kebencian (eks napiter) di Kabupaten Poso menyatakan dukungan terhadap langkah Satuan Tugas (Satgas) Madago Raya dalam mencegah penyebaran paham radikal di wilayah tersebut. Dukungan ini menjadi bukti nyata keterlibatan eks pelaku dalam upaya menjaga perdamaian dan keamanan pascakonflik di Poso.
Salah satu eks napiter, Amirudin alias Aco Gula Merah, mengaku berkomitmen membantu Satgas Madago Raya melakukan pencegahan dini terhadap munculnya kembali ideologi kekerasan. Ia menekankan pentingnya peran masyarakat untuk tidak mudah mempengaruhi ajakan kelompok radikal.
“Kami sudah merasakan sendiri bagaimana paham seperti itu hanya membawa kerusakan dan perpecahan. Sekarang kami ingin berbuat demi perdamaian Poso,” ujar Amirudin di Desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kamis (6/11/2025).
Amirudin yang kini beralih profesi menjadi pengusaha gula merah dan kakao itu menuturkan, pendekatan persuasif yang dilakukan aparat melalui program silaturahmi dan pelatihan sangat membantu proses perubahan dirinya.
“Dulu kami dijauhi, tapi sekarang justru dirangkul. Pendekatan seperti ini yang bisa membuka hati dan menyadarkan banyak orang,” tambahnya.
Selain Amirudin, eks napiter lain Moh. Riski Wahyudi bin Idrus Padoma juga menyatakan kesiapannya membantu aparat keamanan mencegah berkembangnya paham radikal di masyarakat. Ia menilai keterlibatan mantan pelaku justru bisa menjadi contoh positif bagi generasi muda di daerah rawan konflik. “Kami ingin menunjukkan bahwa mantan pelaku bisa berubah. Ini bukan hanya soal keamanan, tapi juga tentang memberi harapan baru bagi keluarga dan masyarakat,” kata Riski.
Komandan Satgas Madago Raya, Brigjen Pol Supriyanto, menyambut baik dukungan tersebut. Ia menilai keterlibatan eks napiter sebagai langkah strategi dalam menjaga stabilitas dan memperkuat pendekatan kemanusiaan di wilayah yang pernah menjadi basis kelompok teroris. “Mereka punya pengalaman langsung, dan sekarang bisa menjadi agen perubahan. Ini sangat membantu kami dalam mencegah penyebaran ideologi kekerasan di akar rumput,” ujar Supriyanto.
Satgas Madago Raya diketahui rutin melakukan kegiatan silaturahmi ke keluarga eks napiter, tokoh agama, dan masyarakat lokal. Program ini menjadi bagian dari Operasi Madago Raya tahap pencegahan (preemtif) yang menitikberatkan pada pelatihan dan pemberdayaan sosial.
Menurut data kepolisian, tingkat kerawanan di Poso terus menurun dalam tiga tahun terakhir berkat kombinasi pendekatan keamanan dan sosial tersebut. Aparat menegaskan, operasi Madago Raya kini fokus bukan lagi pada kepuasan, melainkan pada upaya deradikalisasi dan pemulihan kehidupan masyarakat. “Tujuan akhirnya adalah Poso yang damai, sejahtera, dan bebas dari paham radikal,” tutup Brigjen Supriyanto.