Harakatuna.com. Kupang — Ancaman IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme) kini menjadi perhatian serius aparat penegak hukum di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu ditegaskan oleh Plh. Kasatgaswil Densus 88 Antiteror Polri Provinsi NTT, Kombes Pol Sri Astutu Ningsih, S.Sos., dalam dialog program Kupang Menyapa di Pro 1 RRI Kupang.
Menurut Sri Astutu, unsur keempat dalam IRET saling berkaitan dan membentuk proses perubahan cara berpikir serta perilaku seseorang. “Tidak mungkin seseorang tiba-tiba menjadi pelaku teror jika sebelumnya tidak memiliki sikap intoleran, berpikiran radikal, atau berperilaku ekstrem,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa IRET tidak hanya mengancam keamanan negara, tetapi juga merusak ketahanan sosial masyarakat. Dalam banyak kasus, kata dia, perempuan dan anak-anak justru menjadi kelompok paling rentan karena sering dijadikan korban, sasaran propaganda, bahkan dimanfaatkan dalam jaringan teror tanpa disadari.
“Pola rekrutmen kini jauh lebih halus dan banyak terjadi di ruang digital — melalui media sosial, grup percakapan, maupun forum bold,” ujarnya.
Perempuan Jadi Target Baru Rekrutmen
Kombes Sri Astutu mengungkapkan bahwa perubahan strategi rekrutmen kelompok radikal kini mengarah pada perempuan dan remaja. Mereka kerap terpapar konten digital yang dibalut dengan narasi keagamaan atau keadilan sosial, padahal berisi ajakan kebencian dan kekerasan.
“Target rekrutmen kini sudah bergeser, tidak lagi dominan laki-laki, melainkan perempuan. Kondisi mental, pendidikan, dan ekonomi yang lemah membuat mereka lebih mudah terpengaruh,” jelasnya.
Perempuan dianggap strategis karena memiliki peran besar dalam keluarga, terutama dalam mendidik anak-anak. “Perempuan adalah mesin generasi,” tutur Sri Astutu. “Baik buruknya suatu bangsa tergantung pada bagaimana perempuan — sebagai ibu — membentuk dan mendidik anak-anaknya.”
Ia menambahkan, satu perempuan yang terpapar paham radikal dapat menjadi pintu masuk bagi ideologi ekstrem ke dalam seluruh keluarga. “Anak-anak akan ikut terpapar dari ibunya, apalagi jika kondisi ekonomi dan mental keluarga tidak stabil,” imbuhnya.
Lebih jauh lagi, Sri Astutu menjelaskan bahwa tujuan akhir gerakan terorisme adalah merebut kekuasaan dan mengganti pemerintahan yang sah. “Mereka ingin meruntuhkan sistem pemerintahan yang ada dan mengganti ideologinya dengan mereka sendiri,” ujarnya.
Dalam upaya mencapai tujuan itu, kelompok teror sering menjadikan perempuan sebagai perantara penyebaran ideologi ekstrem, karena mereka memiliki kemampuan komunikasi yang kuat dan dapat mempengaruhi lingkungan sekitar.
Menutup dialog, Kombes Sri Astutu mengingatkan bahwa keluarga merupakan benteng utama dalam melawan IRET. Ia mendorong para orang tua untuk aktif mendampingi anak, mengawasi aktivitas mereka di dunia digital, serta menanamkan nilai-nilai toleransi dan kasih. “Jika sejak dini anak dibekali pemahaman yang moderat dan penuh kasih, maka kita telah menyelamatkan masa depan bangsa dari ancaman radikalisme dan terorisme,” tutupnya.