Harakatuna.com. Jakarta – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri membenarkan telah melakukan penggeledahan di kediaman seorang pelajar di kawasan Perumahan Kota Garut, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tindakan tersebut diduga berkaitan dengan penyelidikan kasus ekstremisme dan radikalisme.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Mayndra, menyampaikan bahwa masih mendalami kasus tersebut. Namun, ia belum mengungkapkan secara rinci status hukum pelajar yang menyangkut serta keterlibatannya dalam jaringan tertentu.
“Masih dalam proses penyelidikan. Kami sedang mendalami dugaan keterkaitan dengan jaringan terorisme,” ujar Mayndra.
Sementara itu, Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Garut, Santi Susanti, membenarkan bahwa anak yang diamankan merupakan seorang pelajar SMK. Ia mengatakan, ia telah melakukan pendampingan terhadap anak tersebut sejak awal proses penanganan.
“Kami sudah melakukan pendampingan terhadap anak ini sebelum dilakukan penggeledahan,” kata Santi.
Berdasarkan informasi yang beredar di masyarakat, dalam operasi tersebut Densus 88 mengamankan sejumlah barang bukti dari rumah pelajar tersebut. Penggeledahan dilakukan dengan pengamanan ketat dan melibatkan kepolisian setempat, termasuk penggunaan kendaraan taktis Barakuda serta personel bersenjata lengkap.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Garut, Ajun Komisaris Polisi Joko Prihatin, menegaskan bahwa upaya tersebut hanya memberikan dukungan pengamanan dalam operasi tersebut. Ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut terkait barang bukti maupun status hukum anak tersebut.
“Kami hanya melakukan back up dari Polres. Untuk teknis dan penanganan sepenuhnya oleh Densus,” ucap Joko.
Dari keterangan warga sekitar, pengurus RW 19 Kelurahan Muara Samping, Fadilah, menyebut penangkapan dan penggeledahan terjadi pada Selasa malam, 23 Desember 2025. Saat itu, warga diminta tidak mendekati lokasi penggeledahan. “Waktu kejadian warga dilarang masuk ke dalam komplek,” kata Fadilah.
Menurut Fadilah, keluarga pelajar tersebut dikenal cukup tertutup dan jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Hal serupa juga terlihat dari keseharian anak yang diduga diamankan aparat.
“Anaknya jarang bergaul dengan teman sebayanya. Lebih sering menyendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, anak-anak tersebut sering menghabiskan waktu dengan bermain gim dare seorang diri, baik pada pagi, siang, maupun malam hari. Aktivitas itu sering dilakukan di ruko yang berada di depan kompleks perumahan. “Sering terlihat permainan utama di ruko depan. Kadang malam sekitar jam tujuh atau delapan, pernah juga pagi atau siang masih memakai seragam sekolah,” tutur Fadilah.
Meski dikenal secara tertutup, warga menyebut anak tersebut memiliki kemampuan bahasa yang cukup menonjol. “Informasinya dia menguasai sampai lima bahasa,” katanya.
Fadilah juga mengungkapkan bahwa anak tersebut sudah lama tinggal di kawasan perumahan itu sejak kecil. Namun, keberadaannya sempat jarang terlihat dan baru kembali muncul sekitar satu tahun terakhir.
Hingga kini, aparat keamanan masih melakukan pendalaman untuk memastikan latar belakang serta dugaan keterkaitan kasus tersebut dengan jaringan ekstremisme atau terorisme tertentu.