Harakatuna.com. Probolinggo – Densus 88 menyelenggarakan kegiatan pembekalan yang ditujukan kepada ibu-ibu anggota DWP Kabupaten Probolinggo dengan tujuan memperkuat ketahanan keluarga terhadap ancaman terorisme dan radikalisme.
Dalam kegiatan tersebut, ibu-ibu diberikan pemahaman bahwa keluarga, dan khususnya peran ibu, memegang posisi strategi dalam mendeteksi dan mencegah penyebaran ideologi ekstrem di lingkungan terdekat. serupa diungkapkan dalam salah satu paparan bahwa “algoritma media sosial dapat memancing anak-anak terus-menerus terpapar konten radikalisme. Kalau tidak menonton, ini bisa berbahaya.”
Salah satu narasumber dari Densus 88 menekankan bahwa upaya pencegahan radikalisme tidak hanya dilakukan di ranah keamanan semata, tetapi juga secara preventif melalui pembinaan di lingkup keluarga. “Kami ingin ibu-ibu memiliki pemahaman yang cukup untuk menjaga anak dan anggota keluarga dari pengaruh ideologi negatif teror,” ujar narasumber tersebut.
Lebih lanjut, kegiatan ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas di wilayah Jawa Timur dalam menanggulangi penyebaran paham radikal hingga ke akar-keluarga. Dengan melibatkan DWP sebagai wadah organisasi ibu-ibu, diharapkan efek sosialnya lebih luas dan menyentuh pada aspek kehidupan sehari-hari.
Para peserta mendapatkan materi yang mencakup mengidentifikasi ciri-ciri ideologi ekstrem, bagaimana membangun komunikasi sehat dalam keluarga, serta cara bijak menggunakan media sosial agar tidak menjadi penyebaran radikalisme. Kegiatan ini juga menekankan bahwa peran ibu bukan hanya sebagai pengasuh rumah tangga, tetapi sebagai “barisan depan” dalam deteksi dini dan pencegahan.
Kepala DWP Kabupaten Probolinggo menyatakan apresiasi atas inisiatif Densus 88 tersebut dan berharap pembekalan seperti ini bisa rutin dilaksanakan agar semakin banyak keluarga yang siap menghadapi tantangan ideologi terorisme di zaman digital. “Dengan pemahaman yang kuat, kita dapat memperkuat benteng keluarga terhadap ancaman yang tidak terlihat namun nyata,” katanya.