Harakatuna.com. Sleman — Kabupaten Sleman terus memperkuat upaya deteksi dini terhadap penyebaran paham radikal di lingkungan sekolah. Melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman (Kesbangpol Sleman), pemerintah daerah mendorong sekolah menjadi garda depan dalam mengenali dan menangkal potensi ekstremisme sejak dini.
“Kami terus berupaya melakukan peningkatan kapasitas satuan pendidikan dalam melakukan deteksi dini dan pencegahan radikalisme maupun ekstremisme di kalangan remaja atau pelajar sekolah,” ujar Kepala Kesbangpol Sleman, Samsul Bakri. Tujuan utama dari upaya ini, menurut dia, adalah menjaga keamanan dan ketahanan ideologi di lingkungan pendidikan.
Seminar dan Edukasi Jadi Langkah Awal
Salah satu langkah konkrit adalah penyelenggaraan seminar bertema “Pencegahan Ekstremisme, Radikalisme, dan Terorisme di Lingkungan Pendidikan” pada Rabu (26/11). Seminar ini diadakan bekerja sama dengan Satgaswil Densus 88 Anti Teror DIY dan melibatkan sekitar 70 kepala sekolah dari tingkat SMP/MTs hingga SMA/SMK/MA negeri di Sleman.
Menurut data yang disampaikan dalam seminar, terdapat kekhawatiran serius terkait rekrutmen anak usia 10–18 tahun oleh jaringan terorisme — baik melalui media sosial maupun platform game dare. Dari penelitian nasional, ditemukan bahwa dari 23 provinsi terdapat sekitar 110 anak dalam rentang usia tersebut yang kesalahpahaman telah direkrut.
Celah Sosial & Digital Jadi Sasaran Kelompok Radikal
Dalam paparan seminar, beberapa faktor kerentanan disebut sebagai pintu masuk radikalisme pada anak dan remaja — antara lain ketidakharmonisan keluarga, perundungan di sekolah, serta pencarian identitas diri. Kondisi ini dianggap bisa dimanfaatkan kelompok radikal untuk mendekati generasi muda.
Oleh karena itu, deteksi dini tidak hanya terfokus pada aktivitas fisik di sekolah, tetapi juga pada perilaku dan interaksi siswa di dunia maya — termasuk media sosial dan platform game online. Dengan demikian, pendidik dan orang tua diharapkan bisa menjadi pelindung pertama bagi anak dari bahaya ideologi ekstrem.
Pentingnya Sinergi Sekolah, Pemerintah, dan Orang Tua
Pihak Pemkab Sleman menekankan bahwa kerja sama lintas sektor — antara sekolah, pemerintah, dan orang tua — sangat penting untuk memperkuat “benteng” pelindung bagi generasi muda. Seminar dan program deteksi dini ini dimaksudkan agar semua pihak sadar bahwa radikalisme bukanlah isu jauh, melainkan tantangan nyata di era digital.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kab. Sleman, Agung Armawanta, juga mengingatkan bahwa para pendidik — terutama kepala sekolah — tidak boleh memandang isu radikalisme sebagai hal yang jauh dari keseharian. Ia menekankan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara nyata, dengan kewaspadaan yang terus menerus.
Mengapa Ini Penting: Ancaman Nyata di Era Digital
Kasus terbaru di berbagai daerah menunjukkan bahwa rekrutmen radikal kini semakin licin: tidak lagi mengandalkan pertemuan fisik, melainkan lewat media sosial atau game online — yang aksesnya mudah bagi remaja. Upaya seperti di Sleman menjadi sangat relevan sebagai respons terhadap modus konservasi baru.
Dengan membekali sekolah dan orang tua dengan pengetahuan serta deteksi dini, diharapkan lingkungan pendidikan bisa menjadi benteng pertama untuk melindungi anak dan remaja. Pendekatan ini tidak hanya soal keamanan fisik, tetapi juga pendidikan karakter dan ketahanan ideologi di tengah informasi digital tsunami.