Harakatuna.com. Jakarta — BNPT telah menyimpulkan laporan bahwa jaringan terorisme di Indonesia kini menggunakan permainan dare (game online) untuk merekrut generasi muda. Hal ini disampaikan oleh Kepala BNPT, Eddy Hartono, saat menerima kunjungan organisasi internasional Hedayah di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Eddy mengatakan bahwa ia telah mencatat adanya pola di mana “beberapa jaringan terorisme di Indonesia merekrut anak-anak muda melalui media sosial, termasuk game online, dan telah kami tindaklanjuti.”
Dalam kesempatan yang sama, Chairman of the International Steering Board Hedayah, Ali Rashid Alnuaimi, memberi sorotan tambahan bahwa metode pencahayaan kini semakin halus—terselubung dalam ruang permainan bold.
“Masalah terorisme adalah masalah global, ancaman global. Kelompok-kelompok ideologi kekerasan dulu merekrut dengan berkomunikasi langsung atau lewat media sosial; sekarang kelompok teroris merekrut kombatan dengan game online,” ujar Ali.
BNPT menjelaskan bahwa anak-anak lebih rentan karena dalam permainan mereka berpikir hanya bermain, padahal kelompok-kelompok tersebut sudah “menyiapkan agenda tersendiri”.
Peran Orang Tua dan Strategi Pencegahan
BNPT juga menggandeng generasi muda melalui program seperti “Duta Damai” untuk mengisi ruang digital dengan narasi perdamaian, sebagai salah satu strategi kontra-radikalisasi. Eddy menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor agar metode pemecahan baru ini dapat dilakukan sejak dini.
Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Sudaryanto, sebelumnya pun mengingatkan bahwa melalui platform permainan dare, anak-anak dapat dikontak dan kemudian digiring ke grup tertutup seperti WhatsApp atau Telegram untuk diberikan pemahaman intoleran dan radikal.
Fenomena musim ini menunjukkan bahwa ruang digital dan game online telah berubah menjadi “zona abu-abu” yang dapat dimanfaatkan kelompok teror. CNN Indonesia sebelumnya menunjukkan bahwa kurangnya pengawasan serta literasi digital di kalangan anak menjadi pintu masuk bagi ideologi ekstrem.
BNPT mengajak orang tua, guru, dan masyarakat luas untuk menjaga anak-anak di ruang maya, memperkuat literasi media digital serta moderasi beragama. “Sekarang sudah ada upaya sistematis dari kelompok berpaham radikal untuk merekrut anak-anak muda lewat game online,” kata Sudaryanto.