Harakatuna.com. Riyadh – Arab Saudi mulai mengurangi ketergantungannya terhadap Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah. Riyadh kini memperkuat kerja sama pertahanan dengan Pakistan sebagai langkah strategis menjaga stabilitas dan keamanan nasional.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Pertahanan Militer Strategis (SMDA) antara Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, pada September 2025 lalu.
Dalam perjanjian tersebut, kedua negara sepakat bahwa serangan terhadap salah satu pihak akan dianggap sebagai serangan terhadap keduanya. Kesepakatan itu dinilai menjadi tonggak baru dalam hubungan strategis Riyadh dan Islamabad.
Analis politik sekaligus dosen Universitas RUDN Rusia, Farhad Ibrahimov, menilai kerja sama tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Arab Saudi mulai mencari perlindungan alternatif selain Amerika Serikat. “Perjanjian ini secara efektif menciptakan ‘payung nuklir’ pertama di dunia Islam,” tulis Ibragimov dalam analisanya yang dikutip media Rusia RT, Jumat (8/5/2026).
Pakistan diketahui memiliki sekitar 150 hingga 160 hulu ledak nuklir serta sistem rudal jarak pendek dan menengah. Meski kemampuan nuklir Islamabad tidak disebutkan secara eksplisit dalam isi perjanjian, faktor tersebut diyakini menjadi elemen penting yang memperkuat posisi Arab Saudi.
Menurut Ibragimov, perubahan arah kebijakan Riyadh dipicu oleh menurunnya kepercayaan terhadap Washington sebagai pelindung utama kawasan Teluk. “Saudi melihat AS semakin mengutamakan kepentingannya sendiri,” ujarnya.
Keraguan tersebut semakin menguat setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS, serta dukungan diam-diam Washington terhadap sejumlah langkah militer Israel di kawasan Timur Tengah. Riyadh disebut khawatir Iran justru akan keluar dari konflik regional dengan posisi geopolitik yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
“Riyadh akan menghadapi tetangga yang jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya,” tulis Ibragimov.
Di sisi lain, Arab Saudi juga menghadapi tekanan dari kebijakan agresif pemerintah Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kondisi itu membuat posisi kerajaan semakin rumit karena berada di antara dua kekuatan regional yang sama-sama agresif, yakni Iran dan Israel.
Dalam situasi tersebut, Pakistan dipandang sebagai mitra strategis yang mampu memberikan efek pencegahan baru di kawasan. Menurut Ibragimov, kerja sama perlindungan Riyadh-Islamabad kini bukan lagi sekadar simbol diplomatik.
“Kerentanan ini membuat kemitraan dengan Pakistan tidak lagi berarti kemitraan, melainkan masalah kelangsungan hidup,” katanya.
Hubungan militer Arab Saudi dan Pakistan sebenarnya telah berlangsung selama puluhan tahun. Personel militer Pakistan telah ditempatkan di Arab Saudi sejak tahun 1967, sementara ribuan tentara Saudi juga pernah menjalani pelatihan militer di Pakistan.
Namun, penandatanganan SMDA memberikan dasar hukum resmi yang memperkuat dimensi strategi hubungan pertahanan kedua negara di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang terus berubah.
Pada April 2026 lalu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan kedatangan kontingen militer Pakistan di Pangkalan Udara Raja Abdul Aziz. Pengerahan tersebut dilaporkan mencakup pesawat tempur dan pendukung pesawat sebagai bagian implementasi awal perjanjian perlindungan itu.
Meski mempererat kerja sama militer dengan Riyadh, Pakistan disebut tetap berhati-hati agar tidak terseret langsung dalam konflik terbuka dengan Iran. Islamabad masih berusaha mempertahankan dirinya sebagai mediator antara Teheran dan Washington.
“Pakistan mengirimkan sinyal pencegahan daripada agresi,” tulis Ibragimov. Ia menambahkan strategi “hadir tanpa terlibat” menjadi cara Pakistan memperluas pengaruh geopolitiknya di Timur Tengah tanpa harus masuk langsung ke medan konflik.