Harakatuna.com. Pangkalpinang — Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Pangkalpinang, Donal Tampubolon, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman radikalisme dan terorisme, khususnya di kalangan remaja dan generasi muda.
Menurut Donal, sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pangkalpinang memiliki tingkat mobilitas masyarakat yang tinggi sehingga dinilai lebih rentan terhadap masuknya paham ekstrem dibandingkan wilayah lain di Bangka Belitung.
“Sebagai kota dengan aktivitas keluar-masuk orang yang cukup tinggi, tentu potensi kerawanannya lebih besar. Namun masyarakat kita sebenarnya cukup kuat dan tangguh menghadapinya. Toleransi dan pembauran di Pangkalpinang sudah sangat baik dan terjaga,” ujar Donal, Jumat (8/5/2026).
Ia menjelaskan karakter kota yang dinamis dapat menjadi celah bagi penyebaran ideologi radikal, terutama melalui ruang digital yang kini semakin mudah diakses masyarakat, termasuk anak-anak dan remaja. Meski demikian, Donal menegaskan kewaspadaan tidak boleh menurun, terutama dalam melindungi kelompok usia muda yang dinilai rentan terpapar paham ekstrem.
Menurutnya, proses radikalisasi sering kali berawal dari rasa ketidakpuasan terhadap lingkungan sekitar, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun terhadap kondisi sosial tertentu. Donal menyoroti dua faktor utama yang dapat memicu kerentanan remaja terhadap paparan radikalisme, yakni kondisi keluarga yang tidak harmonis serta penggunaan gadget tanpa pengawasan.
“Kita takutkan yang tidak terlihat. Anak diam saja di kamar, tapi ternyata melalui gadget mereka sudah mempengaruhi pemahaman ekstrem. Akhirnya, mereka bisa melakukan tindakan kekerasan,” jelasnya.
Ia mengatakan internet yang bebas diakses memungkinkan anak-anak menemukan berbagai konten berbahaya tanpa pendampingan orang tua. Oleh karena itu, keluarga diminta menjadi benteng utama dalam mencegah penyebaran paham radikal.
“Jangan sampai mereka mencari sendiri dan justru menemukan jalan yang berputar. Keluarga harus menjadi benteng utama dan merangkul anak jika mulai menunjukkan peningkatan perilaku yang tidak biasa,” Donal.
Selain peran keluarga, Kesbangpol Pangkalpinang juga mendorong keterlibatan aktif guru, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dalam mengawasi serta membimbing generasi muda agar tidak mudah mempengaruhi narasi intoleransi dan kekerasan.
Donal menegaskan upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan aparat keamanan. Meski pemantauan terhadap jaringan radikal terus dilakukan oleh aparat intelijen dan Densus 88 Antiteror Polri, pengawasan di tingkat keluarga tetap menjadi faktor paling penting.
“Mari kita rangkul anak-anak kita, berikan pengertian tentang penggunaan teknologi yang benar agar mereka tidak terpapar pengaruh buruk dari luar,” tutupnya.