Harakatuna.com. Washington – Donald Trump menyatakan optimisme bahwa perundingan dengan Iran berpotensi terjadi kembali dalam waktu dekat, bahkan bisa terjadi dalam dua hari ke depan di Pakistan.
Dalam wawancara telepon dengan New York Post, Trump mengungkapkan peluang tersebut sambil peran menyinggung Asim Munir yang dinilainya memiliki hubungan baik dengannya, terutama saat membantu upaya mediasi konflik Pakistan–India sebelumnya. “Dia luar biasa, dan karena itu kemungkinan besar kami akan kembali ke sana,” ujar Trump.
Namun, pernyataan Trump sempat berubah dalam waktu singkat. Sekitar satu jam sebelumnya, ia menyebut lokasi perundingan masih bisa dipindahkan ke tempat lain. Hal ini menunjukkan belum adanya keputusan akhir terkait lokasi negosiasi lanjutan.
Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pembicaraan lanjutan dengan Iran masih dalam tahap pembahasan, terutama menjelang berakhirnya gencatan senjata sementara dalam waktu dekat. Hingga kini, belum ada jadwal resmi yang ditetapkan.
Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel juga berdampak pada streaming harga minyak global, terutama akibat ketegangan di Selat Hormuz yang sempat diblokade oleh Teheran. Setelah perundingan awal di Islamabad gagal mencapai kesepakatan, Trump bahkan sempat memerintahkan Angkatan Laut AS untuk melakukan blokade terhadap jalur strategi maritim tersebut.
Di sisi lain, Trump juga melontarkan kritik kepada negara-negara Eropa yang dinilai tidak ikut berkontribusi dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz. Sebaliknya, sejumlah pemimpin Eropa justru menyalahkan langkah AS yang dianggap bertindak tanpa koordinasi dalam menghadapi Iran.
Situasi ini menunjukkan bahwa dinamika negosiasi masih sangat cair, dengan berbagai kepentingan global yang saling tarik-menarik di balik upaya menyelesaikan konflik.