Harakatuna.com. Tulungagung – Unit Pelaksana Teknis Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Kabupaten Tulungagung terus melakukan pendampingan intensif terhadap seorang siswa kelas 5 sekolah dasar yang diduga terpapar paham radikalisme melalui aktivitas game online dan interaksi di media sosial.
Kepala UPT Dinas KBPPPA Tulungagung, Dwi Yanuarti, mengatakan kasus tersebut mulai terdeteksi sejak akhir tahun 2025. Sejak saat itu, ia langsung melakukan pendampingan psikologis secara berkala, baik kepada anak maupun orang lain, guna mencegah paparan yang lebih jauh.
“Kami melihat siswa ini memiliki potensi dan bakat yang cukup baik di bidang digital. Oleh karena itu, kemampuan tersebut harus diarahkan ke wadah yang positif dan bermanfaat,” ujar Dwi Yanuarti, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis, tidak ditemukan indikasi kuat bahwa siswa tersebut memiliki kecenderungan radikalisme yang mengakar. Keterlibatan anak dalam grup media sosial yang diduga menyimpang lebih dipengaruhi oleh faktor pencarian jati diri dan kebutuhan mendapatkan pengakuan di usia anak dan remaja.
Meski demikian, saya tetap melakukan intervensi sejak dini karena aktivitas di grup tersebut dinilai berpotensi menjadi pintu awal proses doktrinasi. “Kami melakukan pendampingan secara rutin untuk mempelajari metode pemulihan yang paling sesuai dengan kondisi psikologis anak,” katanya.
Selain memberikan pendampingan langsung, UPT Dinas KBPPPA juga membangun komunikasi intensif dengan siswa dan keluarganya melalui pesan singkat untuk menjaga perkembangan kondisi psikologis anak secara berkelanjutan.
Menurut Dwi, pendekatan yang digunakan lebih mengedepankan cara humanis dan persuasif dibandingkan dengan pendek secara keras. Langkah tersebut dilakukan agar anak tidak merasa stres ataupun menunjukkan sikap memberontak.
Pendekatan emosional, seperti mengajak anak melakukan aktivitas positif di luar rumah serta memperkuat komunikasi dalam keluarga, dinilai cukup efektif dalam membantu memulihkan rasa percaya diri siswa tersebut.
Saat ini, kondisi anak mulai membaik. Ia dinilai lebih terbuka, kembali aktif mengikuti kegiatan belajar, dan menunjukkan perkembangan positif dalam kehidupan sosialnya.
Dwi menambahkan, siswa tersebut juga memiliki prestasi akademik yang baik serta kemampuan berbahasa Inggris yang cukup menonjol. “Perubahan perilaku ini menjadi sinyal positif bahwa proses pemulihan berjalan sesuai dengan rencana intervensi psikologis yang telah kami persiapkan,” tegasnya.