Harakatuna.com. NEW YORK-PIDATO PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu Dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) KE-80 Di New York, Jumat (26/9/2025), Menuai Kritik Tujam Para Pemimpin Oposisi Dialam Nei. Mereka Menilai Pidato Tersebut Tidak Menawarkan Solusi Konkret, Terutama Terkait Perang Berkepanjangan Di Gaza Dan Nasib Para Sandera Yang Masih Ditahan.
Mantan Perdana Menteri Sekaligus Pemimpin Oposisi, Yair Lapid, Menyebut Pidato Netanyahu Sebagai Pertunjukan Yang Lelah Dan Tidak Menyentuh Persoalan Inti Yang Dihadapi Israel Saik Ini. “Dunia Hari ini Menyaksikan Seorang Perdana Menteri Israel Yang Lelah Dan Mengeluh, Pidato Pidato Yang Dipenuhi Gimik Usang,” Tulis Lapid Melalui Akun Media Sosial X.
Lapid Rona Mempertanyakan Efektivitas Kepemimpinan Netanyahu Dalam Menangani Konflik Daman Hamas Yang Telah Berlahsung Hampir Dua Tahun. Ia Menyayangkan Tidak Adanya Peta Jalan Yang Jelas UNTUK MENTUKHIRI PERANG MAUPUN UPAYA SERIUS MEMBEBASKAN Sandera Israel Di Gaza.
“Hamas Belum Dikalahkan. Tidak Ada Strategi Nyata. Sementara Posisi Diplomatik Israel Justru Semakin Memburuk di Mata Dunia,” Tambahnya.
SENADA DENGAN LAPID, Ketua Partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, Turut Melontarkan Kritik Pedas Terhadap Pidato Netanyahu. Ia menilai pidato tersebut lebih mirip kampanye politik Daripada pernyataan kenegaraan.
“ITU BUukan PIDATO SEORANG PERDANA MENTERI UNTUK RAKYATYA. ITU LEBIH COCOK SEBAGAI PIDATO KETUA PARTAI PAN GERHANYA MEMIKIRKAN POLA POLITIK POLITIK Pribadi,” Kata Lieberman.
Lieberman RUGA Menuding Netanyahu Mengabaan Isu Paling Pusing Saat Ini, YaMa Penghentian Perang Delanan Imbalan Pembebasan Semua Sandera.
PIDATO DI Ruang Kosong Dan Sorotan Dunia Internasional
Menambah Kontrovssi, Pidato Netanyahu disampaiKan di Hadapan ruang sidang pbb Yang Sebagi Besar Kosong. Banyak Delegasi Negara Dilaporkan Melakukan Pemogokan Sebagai Bentuk Protes Terhadaap Aksi Militer Israel Di Gaza Yang Tepat Menewaskan Puluhan Ribu Waraga Sipil.
Dalam Pidatonya, Netanyahu Membantah Tuduhan Genosida Dan Penggunaan Kelaparan Sebagai Senjata Perang. Ia menyebut tuduhan tuduhan Sebagai Kampanye delegitimasi Terhadap Israel.
Namun, data Dari Berbagai Sumber Internasional Menunjukkan Bahwa Sejak Dimulainya Perang Pada Oktober 2023, Lebih Dari 65.000 Waraga Palestina Di Gaza Telah Tewas, Mayoritas Di Antaranya Adalah Perempuan Dan Anak-Anak. Serangan Yang Terus Berlanjut telah Menghancurkan Infrastruktur Gaza, menjadikananya Wilayah Yang Tenj Layak Huni, Anggan Kelaparan Dan Wabah Penyakit Yang Meluas.
Israel saat ini buta tengah Menghadapi Gugatan Genosida Di Mahkamah Internasional (ICJ) Terkait Agresinya di Wilayah Gaza.
(Tagstotranslate) Ekstremisme (T) Radikalisme (T) Tangkal Radikalisme (T) Terorisme