Harakatuna.com. Solo — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Muhadjir Effendy, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi aksi terorisme selama bulan Ramadhan. Peringatan tersebut disampaikannya saat memberikan ceramah usai salat tarawih bersama di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa (5/6/2018) malam.
Di hadapan jemaah, Muhadjir menjelaskan bahwa kelompok teroris kerap menyorot momentum Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk melakukan aksi kekerasan. Hal ini, menurutnya, sering dikaitkan secara keliru dengan sejumlah peristiwa peperangan dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Ramadhan.
“Dalam sejarah Islam memang ada beberapa peperangan yang terjadi pada bulan Ramadhan, seperti Perang Badar, Perang Tabuk, Perang Zallaqah, dan lainnya. Oleh karena itu, bulan ini sering disalahartikan oleh kelompok teroris,” ujar Muhadjir.
Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu menegaskan bahwa peperangan pada masa lalu memiliki konteks yang sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Konflik yang terjadi kala itu umumnya dipicu oleh perebutan sumber daya vital, terutama udara, mengingat Ramadhan dikenal sebagai bulan dengan suhu paling panas di kawasan Arab.
“Bulan Ramadan dikenal sebagai bulan terpanas. Setiap suku harus berjuang mencari sumber mata air untuk bertahan hidup. Itu konteks peperangan yang terjadi saat itu, bukan seperti yang dipahami kelompok ekstrem sekarang,” jelasnya.
Muhadjir juga mengulas asal-usul penamaan Ramadhan yang berasal dari kata ramad atau ramdha, yang berarti panas atau terbakar. “Ramadhan berasal dari kata yang berarti terbakar, karena memang pada masa itu merupakan bulan paling panas. Dalam makna spiritual, Ramadhan dimaknai sebagai bulan pembakaran dosa,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Muhadjir turut mengapresiasi inisiatif Rektor UNS Ravik Karsidi yang menggagas gerakan “Membaca Kitab Suci Setiap Hari” bagi seluruh sivitas akademika lintas agama. Menurutnya, gerakan ini merupakan langkah strategi dalam menangkal paham radikalisme dan ekstremisme yang mengatasnamakan agama.
“Semua pemeluk agama diharapkan tidak hanya membaca, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai luhur dalam kitab sucinya masing-masing. Dengan begitu, masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh paham ekstrem yang menyimpang,” pungkas Muhadjir.